Menemani Asa Melawan Lupus

Kompas.com - 09/12/2009, 18:27 WIB
Editor

"Mama, ada yang berbisik di telingaku." "Ada apa, sayang?" "Katanya, aku akan mati. Aku takut, Ma." Penggalan percakapan itu termuat dalam hal 378 buku "Asa, Malaikat Mungilku" karya Astuti J Syahban (38), ibunda Asa Putri Utami.

 

Asa meninggal dalam usia 10 tahun, tepatnya September 2007. Ia diketahui menderita lupus pada Desember 2006.

Penyakit lupus meski sudah diketahui sejak 150 tahun lalu, tetapi hingga kini masih misterius karena belum diketahui penyebab pasti dan metode penyembuhannya. Lupus merupakan penyakit kronik atau menahun akibat antibodi yang "menyerang" sistem kekebalan tubuh sendiri.

"Saya dan keluarga sama sekali tidak tahu tentang penyakit itu dan gejala-gejalanya, dan saya rasa ini dialami orangtua lain. Saya berharap lebih banyak lagi sosialisasi tentang lupus agar orang tua waspada dan dapat mengenali gejalanya sejak dini jika terkena pada anak mereka," kata Astuti usai diskusi "Sentuhan Tuhan dalam Penulisan Kisah Nyata" di Balai Soedjatmoko, Solo, bersama novelis Sanie B Kuncoro, Minggu (6/12) di Solo.

Astuti hanya diberi tahu dokter bahwa anaknya terserang lupus. Selebihnya, Astuti mencari sendiri referensi tentang penyakit ini melalui internet. "Anak saya diketahui terkena lupus sudah terlambat. Penyakit itu sudah menggerogoti jantung, ginjal, hati, daun paru-paru, saluran kencing, otak, saraf, darah, rongga pernapasan, tulang, dan otot-otot Asa," kata Astuti.

Selain itu, menurut Astuti, belum semua kota mampu menangani penyakit ini dari sisi tenaga dokter ahli. Astuti yang tinggal di Kota Solo harus bolak-balik Solo-Yogyakarta untuk pengobatan anaknya.

Astuti berharap, bukunya yang ditulis dengan detail dapat menjadi gambaran tentang ancaman penyakit lupus. Dalam bukunya itu, Astuti menggambarkan secara rinci gejala yang dialami Asa. meskipun memang penderita dapat mengalami gejala yang berbeda-beda.

Astuti sempat berniat berangkat menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) untuk mengumpulkan uang guna biaya pengobatan bagi Asa yang besar. Astuti berharap melalui bukunya ini muncul perhatian lebih besar kepada penderita lupus dan keluarganya mengingat pengobatan yang mahal.

"Tidak hanya biayanya mahal, belum semua daerah bisa menangani penyakit ini," kata Astuti.

Berbagi pengalaman

Sepeninggal anaknya, Astuti menyusun buku. Selain untuk memenuhi keinginan Asa yang ingin membuat buku, Astuti ingin berbagi semangat dengan orangtua yang bernasib sama dengannya.

Di mata Sanie B Kuncoro yang membedah buku ini, apa yang ditulis Astuti dari aspek sastra merupakan salah satu bagian dari fenomena "sastra ibu rumah tangga", yakni karya sastra yang dihasilkan oleh ibu rumah tangga di tengah kebiasaan karya sastra buah cipta penulis murni atau sastrawan.

"Buku ini sangat menyentuh dan bisa menjadi teladan tidak hanya untuk mereka yang menghadapi sakit lupus, tetapi juga persoalan lainnya," kata Sanie. (Sri Rejeki)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.