Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Protein Penghalang Kanker

Kompas.com - 28/12/2009, 09:13 WIB
EditorAnna

KOMPAS.com - Para ilmuwan menunjukkan bagaimana protein ”mirip keong” berperan penting dalam perbaikan kerusakan DNA, yang mengarah kepada penyakit kanker. Temuan mereka, yang dimuat pada jurnal Nature pekan ini, merintis harapan pada temuan obat tipe baru pencegah kanker yang mematikan.

Para ahli berharap adanya sebuah obat yang tidak hanya membunuh sel-sel kanker, tetapi juga mendorong tubuh memproduksi sel pengganti yang lebih sehat. Protein temuan tersebut terlihat memiliki kemampuan luar biasa untuk eksis di area yang merusak.

Keluarga protein itu, Small Ubiquitin-like Modifier (Sumo), sanggup menghindar ketika berada di bagian tubuh tempat kerusakan DNA terjadi. Protein ini seperti membuka rahasia mekanisme tubuh melawan pertumbuhan sel-sel kanker.
Secara khusus, temuan itu menjadi tahap pertama menuju pengembangan obat yang kemungkinan melindungi sel-sel normal dari efek samping kemoterapi dan radioterapi, sekaligus memperbaiki efektivitas penanganan kanker payudara yang berkembang saat ini.

Menurut salah satu peneliti dari King’s College London, Dr Jo Morris, keluarga protein itu menempelkan diri ke protein normal dan menuntun memperbaiki kegagalan genetik. Menggunakan metode itu, protein-protein tersebut bahkan mampu memperbaiki kerusakan DNA untaian ganda, tipe kerusakan DNA yang paling berbahaya. Setelah sukses menjalankan misi perbaikan, protein tersebut melepaskan diri dan bergerak bebas sendiri.

Salah satu studi mampu mengikuti proses perbaikan pada gen (pembawa sifat keturunan) BRCA1, yang jika rusak, selalu dikaitkan dengan risiko sangat tinggi terbentuknya kanker payudara. Sumo terlihat menempel pada gen yang rusak dan membalik keadaan, membantu mencegah pembentukan kanker payudara.
Dr Lesley Walker dari Riset Kanker Inggris mengatakan, temuan protein tersebut membuka peluang baru menghentikan pertumbuhan sel kanker sejak masa dini. Namun, ia menambahkan bahwa pengetahuan itu sungguh kompleks dan benar-benar proses biologi yang sangat rumit sehingga butuh waktu lama sebelum dapat digunakan secara maksimal bagi perbaikan penanganan pasien kanker. (BBC/GSA)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+