Terapi Musik yang Menentramkan Hati

Kompas.com - 04/01/2010, 08:52 WIB
Editorwsn

KOMPAS.com - Musik sudah lama menjadi bagian dari kehidupan manusia yang mampu membuat seseorang terhibur, terlena, atau mengenang kembali. Musik juga bisa menjadi terapi. Terapi musik sudah lama dipakai untuk membantu daya ingat pasien Alzheimer dan mengembangkan kemampuan komunikasi anak-anak autis.

Kini para peneliti dari University of Alabama, Amerika Serikat, mengembangkan terapi musik menggunakan gitar dan lagu untuk "mengantar" pasien yang sedang sekarat menjemput ajalnya.

Terapi musik ialah penggunaan bunyi dan musik dalam memunculkan hubungan antara individu dan terapis untuk mendukung dan menguatkan secara fisik, mental, sosial, dan emosi. Penggunaan bunyi dan musik dapat berbagai cara, misalnya bermain musik bersama dengan improvisasi bebas.

Menurut Sarah Pitts, salah seorang peneliti di bidang terapi musik, seringkali keluarga dari pasien yang sedang sekarat berkumpul di sekitar pasien dan minta dinyanyikan lagu himne yang menentramkan hati, seperti Amazing Grace. Ada pula pasien yang ingin dinyanyikan lagu rock klasik seperti lagu-lagu Beatles yang mampu memunculkan memori bahagia.

Sarah Pitts pertama kali main musik untuk seorang nenek yang hampir meninggal. "Secara perlahan napas wanita itu menjadi tenang. Keluarganya lalu berkumpul di sekitarnya dan satu persatu mengucapkan selamat tinggal. Saya senang bila musik saya mampu membuat orang nyaman," katanya.

Musik yang dipakai sebagai terapi lebih dari sekadar musik yang enak didengar. Musik adalah medium untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Demikian menurut Dena Register, ahli terapi musik dari University of Kansas, AS.

"Kami tidak mengajar orang untuk sekedar memainkan gitar atau piano, atau bernyanyi untuk menghibur," kata Register. Ia menambahkan, ada target yang lebih besar dari terapi musik. Misalnya saja untuk menghilangkan rasa sakit atau membantu pasien menyampaikan keinginannya pada keluarga.

Bagi sebagian orang, kata-kata tak memungkinkan untuk berkomunikasi. Misalnya saja pasien yang sedang sekarat tidak dapat berbicara, atau pasien gangguan mental yang memang memilih tidak berbicara. Terapi musik bisa disesuaikan dengan kebutuhan individu.

Metode terapi musik pertama kali ditemukan di Amerika tahun 1950-an. Pada tahun 1970-an, Mary Priestly mengembangkan analytical music therapy ketika bekerja sebagai terapis musik d sebuah rumah sakit jiwa. Di tahun 2007 sebuah studi membuktikan bahwa terapi musik secara dramatis mampu meningkatkan kondisi fisik dan mental pasien paliatif (yang sedang menghadapi kematiannya).

Dalam studi yang dilakukan para peneliti dari Cleveland Music School Settlement tersebut diketahui terapi musik secara signifikan menurunkan rasa gelisah dan sakit yang dirasakan pasien serta membuat pasien bernapas lebih tenang. Sekitar 80 persen dari 200 responden juga mengaku mood mereka menjadi lebih baik, demikian juga dengan para keluarganya.

"Musik sepertiny memang sederhana tapi bermanfaat besar untuk anggota keluarga dan pasien dalam menghadapi kematian, trauma, atau rasa takut sebelum dioperasi," kata Pitts.

Musik mampu menghadirkan rasa emosi tertentu, bahkan respon fisik. Untuk pasien dan keluarga, musik dapat membantu mereka untuk berkumpul dan bersama sebagai keluarga, mengingatkan mereka pada saat-saat membahagiakan sehingga pasien lebih tenang menghadapi kematiannya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.