Penyebaran Penyakit Makin Cepat

Kompas.com - 14/01/2010, 13:57 WIB
Editor

Ciamis, Kompas - Perubahan iklim dan cuaca yang tak menentu membuat berbagai penyakit semakin mudah menyerang manusia. Kondisi itu diperparah lagi dengan perilaku manusia yang tidak sehat dan buruknya lingkungan sehingga penyebaran sekaligus penularan penyakit semakin cepat dan mudah.

Peneliti pada Loka Litbang Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis, Lukman Hakim, Rabu (13/1) di Pangandaran, mengatakan, perubahan iklim bisa memperpendek siklus bibit penyakit di dalam tubuh nyamuk sehingga bisa mempercepat penularan. Di samping itu, perubahan iklim juga dapat mempercepat pembentukan nyamuk dewasa. "Dulu nyamuk menjadi dewasa dalam 8-10 hari, tetapi sekarang bisa jadi baru seminggu nyamuk sudah dewasa," katanya.

Selama ini penyakit menular di Jabar selatan yang paling dominan adalah malaria, di Jabar tengah kaki gajah, dan di Jabar utara demam berdarah dengue (DBD). Namun, akibat pengaruh mobilitas penduduk, peta penyakit tersebut bisa saja berubah. "Sekarang penyakit DBD saja sudah bergeser ke pedesaan," ujar Lukman.

Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya Yusuf Romli berpendapat serupa. Dia menduga, perubahan iklim menjadi salah satu faktor yang tidak bisa dilepaskan dari munculnya penyakit chikungunya di Tasikmalaya selatan beberapa bulan terakhir. Dalam dua bulan terakhir tak kurang dari 350 orang di Kecamatan Cikalong, Karangnunggal, Cikatomas, dan Pancatengah terkena chikungunya.

Munculnya chikungunya di Tasikmalaya hampir bersamaan dengan di Ciamis. Bahkan, ada sekitar 1.000 temuan kasus chikungunya di Ciamis dalam kurun waktu sama.

Lukman menambahkan, lingkungan yang tidak sehat juga bisa mengakibatkan penyebaran penyakit semakin cepat. Sawah dan kolam di lingkungan tempat ditemukannya 13 orang yang positif terkena mikrofilaria di Kampung Cimertug, Desa Bantarkalong, Kecamatan Cipatujah, pertengahan tahun lalu, ternyata menjadi sarang nyamuk. Jika penderita tidak segera ditangani, penyakit itu akan semakin menyebar.

Upaya preventif

Banyak orang mengetahui soal penyakit menular dan memahami pentingnya perilaku hidup sehat. Namun, hal ini sering kali tidak ditindaklanjuti dengan praktik riil dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, kata Kepala Loka Litbang P2B2 Ciamis Sugianto, sudah saatnya semua pihak memerhatikan upaya preventif dan promotif dalam pemberantasan penyakit menular. "Penanganan penyakit di hilir saja tidak akan selesai dan cenderung menghabiskan banyak biaya. Karena itu, bagian hulu juga harus digarap," ujarnya.

Selain pemberantasan sarang nyamuk yang sudah umum diketahui masyarakat, menurut Yusuf, ada satu hal lagi yang merupakan bagian dari upaya pencegahan penyakit dan bisa dilakukan di wilayah selatan yang tutupan vegetasinya masih luas, yakni tidak merusak hutan. Hutan yang dibiarkan alami akan menjadi semacam tempat isolasi binatang penyebar penyakit.

Jika lingkungan tempat tinggal binatang penyebar penyakit terganggu, binatang tersebut kemungkinan akan merambah ke permukiman warga. (adh)

 

 


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X