Tinggi, Biaya Kesehatan akibat Diabetes

Kompas.com - 23/02/2010, 10:38 WIB
EditorAnna

KOMPAS.com — Diabetes, yang selama ini menjadi masalah kesehatan negara maju, kini juga menjadi persoalan kesehatan negara berkembang. Diabetes dan komplikasinya, seperti stroke dan penyakit jantung, akan menjadi beban ekonomi terbesar bagi negara-negara berkembang.

"Diabetes telah bergeser dari persoalan kesehatan negara maju menjadi penyakit negara berkembang, seperti India dan China, dan ini akan menjadi beban pembiayaan kesehatan yang besar," kata Philip Clarke, peneliti dari University of Sydney School of Public Health.

Komplikasi diabetes antara lain penyakit jantung koroner, stroke, neuropati diabetik (gangguan pada pembuluh saraf), amputasi, gagal ginjal, dan kebutaan. Bila terjadi komplikasi, bisa terjadi kecacatan, menurunnya usia harapan hidup, dan tingginya pembiayaan kesehatan untuk semua golongan masyarakat.

Dalam penelitiannya, Clarke dan timnya menguji data 11.140 pasien diabetes di 20 negara, meliputi komplikasi yang diderita pasien, biaya perawatan, dan lamanya tinggal di rumah sakit. Hasilnya diketahui bahwa biaya kesehatan akibat penyakit diabetes meningkat tajam, terutama di negara-negara miskin.

Saat ini diperkirakan 250 juta orang di dunia menderita diabetes, angka ini akan terus bertambah dengan jumlah terbanyak, sekitar tiga perempatnya berada di negara berkembang. Indonesia saat ini menduduki urutan keempat setelah Amerika Serikat, China, dan India.

"Pasien di Asia dan Eropa Timur memiliki angka insiden stroke paling tinggi dibanding pasien dari negara maju. Pasien di negara berkembang juga lebih sedikit yang mendapat layanan kesehatan untuk penyakitnya dan lebih lama tinggal di rumah sakit," menurut laporan penelitian Clarke.

Pengeluaran per kapita China untuk biaya kesehatan diabetes diperkirakan 216 dollar AS (sekitar Rp 205.000) per tahun. Angka tersebut akan meningkat 10 kali lipat bila pasien mengalami komplikasi, misalnya stroke.

"Cara paling efisien untuk mengurangi tingginya biaya kesehatan adalah dengan mencegah terjadinya komplikasi. Bila pasien secara rutin mengontrol tekanan darahnya, biaya kesehatan bisa dipangkas," kata Clarke.

Dalam risetnya, Clarke melakukan survei di China, India, Malaysia, Filipina, Republik Ceko, Estonia, Hongaria, Lituania, Polandia, Rusia, Slowakia, Australia, Kanada, Perancis, Jerman, Irlandia, Italia, Belanda, Selandia Baru, dan Inggris.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.