Periksa Kotoran Cegah Kanker Kolorektal

Kompas.com - 17/03/2010, 15:15 WIB
EditorAnna

Kompas.com - Jangan anggap sepele munculnya bercak darah dalam feses saat buang air besar, demikian juga dengan perubahan pola konsistensi tinja dari keras menjadi encer yang diikuti dengan rasa sakit di perut. Boleh jadi ini merupakan gejala dari kanker kolorektal.

"Normalnya tidak boleh ada darah dalam tinja. Begitu ditemukan ada darah, kita harus waspada. Ingatkan dokter untuk melakukan pemeriksaan," papar Dr.dr.Aru W Sudono, Sp.PD, KHOM, pakar kanker dari FKUI/RSCM Jakarta.

Meski sebagian besar pemeriksaan menunjukkan darah dalam tinja merupakan tanda hemoroid (wasir), namun tidak ada salahnya melakukan pemeriksaan colok dubur. "Lebih baik waspada tapi terhindar dari kemoterapi yang mahal dan menguras fisik dan psikis," kata dr.Aru.

Gejala kanker kolorektal antara lain perubahan kebiasaan pada buang air besar (BAB), yang meliputi frekuensi dan konsistensi tanpa sebab yang jelas dan berlangsung lebih dari enam minggu, terdapat darah dalam tinja, nyeri perut di bagian belakang, penurunan berat badan, dan rasa penuh meski sudah BAB.

Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis penyakit kanker ini adalah pemeriksaan klinis (riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik), pemeriksan rektal dengan jari, serta pemeriksan laboratorium (memeriksa tinja) dan kolonoskopi.

Pemeriksaan kolonoskopi dilakukan dengan memasukkan pipa lentur yang dilengkapi kamera dan jarum biopsi ke dalam rektum untuk melihat selaput lendir usus besar. "Bagian yang mencurigakan, misalnya polip, akan diambil dan dibiopsi," papar dr.Aru. Pengambilan polip akan mencegah kanker berkembang.

Menurut pengakuan dr.Aru, ia sendiri pernah melakukan pemeriksaan kolonoskopi dan ditemukan adanya polip. "Waktu itu diketahui kalau polip itu sudah tahap pra-kanker. Bila tidak ditemukan, mungkin dalam dua atau tiga tahun sudah berkembang jadi kanker," ujarnya.

Kanker kolon merupakan penyakit yang perjalanannya lambat, karena itu masyarakat dianjurkan untuk melakukan deteksi dini, khususnya pada kelompok risiko tinggi, misalnya berusia lebih dari 50 tahun dan memiliki riwayat keluarga menderita kanker. "Di usia 50-an, biasanya mulai muncul tanda-tanda kanker," jelas dr.Aru.

Bila kanker ditemukan dalam stadium satu, dalam lima tahun risiko pasien untuk bertahan hidup mencapai 90 persen. Sedangkan pada stadium lanjut (stadium 4), kemungkinan untuk hidup tinggal lima persen. "Kebanyakan pasien di Indonesia baru datang saat stadium tiga yang angka survivalnya sekitar 30-60 persen," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.