Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

ASI Tekan 22 Persen Kematian

Kompas.com - 12/05/2010, 06:56 WIB
EditorLusia Kus Anna

Jakarta, Kompas - Inisiasi menyusui dini dapat menurunkan angka kematian bayi baru lahir hingga 22 persen. Hanya saja, cara sederhana dan murah tersebut kurang diketahui masyarakat, bahkan di kalangan tenaga kesehatan. Terlebih lagi, di tengah serbuan berbagai susu formula.

Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia sekaligus dokter spesialis anak, Utami Roesli, mengatakan, kematian bayi baru lahir, yakni usia di bawah 28 hari, di Indonesia dapat dicegah melalui pemberian air susu ibu (ASI) dalam satu jam pertama setelah lahir. Hal itu diungkapkannya di sela seminar Advance Issues on Breastfeeding, Selasa (12/5).

Hasil penelitian Karen M Edmond di Ghana terhadap 10.947 bayi, inisiasi menyusui dini (IMD) menurunkan angka kematian bayi neonatus hingga 22 persen. Penelitian tersebut dipublikasikan di jurnal Pediatric tahun 2006.

Hanya saja, di masyarakat masih terjadi kerancuan konsep IMD. ”Dahulu, IMD itu dimaknai dengan membantu ibu menyusui dan mulut bayi langsung ditaruh pada payudara ibu untuk menyusui,” ujarnya.

Padahal, teknik IMD yang benar setelah bayi lahir dan tali pusar dipotong, bayi segera dikeringkan (dibersihkan) lalu diletakkan di dada ibu sehingga terjadi kontak kulit antara ibu dan bayi. Bayi dibiarkan menemukan sendiri puting ibunya untuk menyusu. ”Setelah satu jam tidak menemukan puting ibu, bayi boleh didekatkan ke puting ibu dan diberi waktu 30 menit lagi untuk menemukan sendiri. Ibu dan bayi tidak dipisahkan,” ujarnya.

Dia mengatakan, IMD masih relatif baru di Indonesia sehingga masih banyak pekerjaan yang harus ditempuh. Jangankan IMD, untuk memasyarakatkan ASI eksklusif yang sudah dikenal sejak tahun 1980-an saja masih dibutuhkan kerja keras. Diperkirakan ASI eksklusif baru dilaksanakan sekitar 30 persen di Indonesia.

Pembicara lain, dokter spesialis anak dari Perhimpunan Peritanologi Indonesia, Asti Praborini, mengatakan, sedapat mungkin disarankan ibu tetap menyusui dalam kondisi apa pun. Ketidakpahaman kerap membuat tenaga kesehatan terlalu cepat memberikan susu formula sebagai pengganti ASI. Asti mengatakan, penggunaan pengganti ASI sangat terbatas dan jika diputuskan memberikan pengganti ASI, harus didiskusikan dengan keluarga pasien. (INE)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca tentang
    Video rekomendasi
    Video lainnya

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    27th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    komentar di artikel lainnya
    Verifikasi akun KG Media ID
    Verifikasi akun KG Media ID

    Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

    Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+