Meningkat, Fenomena Anak Obesitas

Kompas.com - 25/05/2010, 10:37 WIB
EditorAnna

KOMPAS.com — Anak yang gemuk di masyarakat masih dipandang sebagai anak yang cukup gizi dan justru menjadi kebanggaan orangtua karena dianggap sebagai cermin sukses orangtuanya. Padahal, gemuk  berlebih atau obesitas membuat anak berisiko terkena berbagai penyakit.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan kekhawatirannya pada fenomena anak obesitas yang terus meningkat dan sudah pada taraf bahaya. Bukan hanya di negara maju, tetapi juga di negara berkembang. Baru-baru ini WHO merekomendasikan para menteri kesehatan untuk mengkaji ulang pemasaran makanan dan minuman nonalkohol untuk anak.

Berbagai riset menunjukkan, makanan yang tinggi kandungan lemak, gula, atau garam berkontribusi pada penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, dan kanker. Berdasarkan data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, 60 persen kematian di seluruh dunia disebabkan oleh penyakit yang sebenarnya bisa dicegah.

"Jumlah anak yang obesitas secara global terus meningkat, terutama di negara berkembang. Penyebabnya adalah perubahan pola makan dan aktivitas fisik yang berkurang," kata Timothy Armstrong, pejabat WHO bidang promosi kesehatan.

Diperkirakan 42 juta anak usia kurang dari lima tahun menderita kegemukan dan 35 juta di antaranya anak dari negara berkembang. "Risiko penyakit akibat pola makan yang tidak sehat dimulai sejak anak-anak dan terus berlanjut hingga dewasa," lanjut Armstrong.

Amerika menjadi salah satu negara yang mendapat sorotan karena angka obesitas di negara tersebut dinilai berbahaya. Salah satu strategi yang direkomendasikan adalah pembatasan iklan makanan dan minuman untuk anak-anak.

Michelle Obama, Ibu Negara Amerika Serikat, beberapa waktu lalu melakukan kampanye nasional untuk mengatasi obesitas pada anak. Saat ini dua pertiga orang dewasa dan 15 persen anak di negara tersebut menderita obesitas.

WHO juga mengeluarkan rekomendasi pembatasan waktu anak menonton televisi untuk menghindari paparan iklan. Sekolah dan taman bermain juga harus bebas dari berbagai bentuk iklan makanan dan minuman yang mengandung gula.

Dalam kampanye melawan pandemi obesitas ini, WHO mengadaptasi strategi global untuk pola makan dan aktivitas fisik. Kendati di Indonesia fenomena anak obesitas belum terlalu mengkhawatirkan, potensi untuk menjadi masalah tetap ada.

Seperti di negara lain, anak-anak Indonesia juga mengalami perubahan gaya hidup perkotaan, yakni makanan tinggi lemak dan kurang beraktivitas. Makin menjamurnya gerai makanan cepat saji dan perkembangan teknologi komputer dan multimedia dianggap menjadi salah satu penyebab banyaknya anak-anak yang kegemukan.

Anak-anak yang obesitas pada akhirnya akan menjadi beban negara karena mereka rentan terkena penyakit sehingga biaya pengobatan menjadi tinggi dan mereka akan menjadi generasi yang tidak produktif.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang

    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.