Jadilah Pasien Pintar!

Kompas.com - 08/06/2010, 09:15 WIB
EditorAsep Candra

JAKARTA, KOMPAS.com - Salah satu sebab mengapa orang enggan pergi ke dokter atau rumah sakit, bisa jadi karena persoalan komunikasi. Hal ini diungkapkan guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Daldiyono Hardjodisastro, dalam bukunya yang berjudul Pasien Pintar dan Dokter Bijak.

Dalam buku tersebut diungkapkan, untuk mendapat hasil maksimal dari pertemuan dengan dokter, pasien harus mempersiapkan diri, di antaranya:  

* Mengenakan pakaian yang memudahkan dokter melakukan pemeriksaan.

* Mencatat keluhan yang hendak disampaikan ke dokter secara lengkap, kapan dirasakan, dan upaya yang sudah dilakukan untuk mengurangi rasa sakit. Beritahukan pula penyakit yang pernah atau sedang diderita, obat yang sedang diminum, serta jika ada alergi.

* Dari tanya jawab soal keluhan dan pemeriksaan fisik pasien, dokter akan menegakkan diagnosis kemudian memberikan terapi, termasuk resep obat. Pasien berhak mendapat informasi yang jelas mengenai hasil pemeriksaan, menanyakan bila ada yang belum jelas, juga mengambil keputusan untuk menerima atau menolak saran dokter tentang terapi yang akan diberikan. Jika pasien tidak menerima keputusan dokter, ia berhak mencari pendapat kedua (second opinion) dari dokter lain.

* Pasien yang pintar perlu bertanya dan mengetahui obat apa yang diresepkan dokter serta manfaatnya.

* Jika kondisi keuangan tidak memungkinkan, pasien perlu meminta obat generik. Hilangkan persepsi bahwa penyakit harus cepat sembuh. Ingat, pengobatan memerlukan waktu, kesabaran, dan ketekunan. Tak jarang, ada dokter terbawa kemauan pasien yang ingin cepat sembuh, sehingga melakukan berbagai jenis pemeriksaan yang belum tentu diperlukan atau memberi obat berlebihan.

* Sebaliknya, dokter yang bijak adalah yang mampu berkomunikasi secara efektif dengan pasien. Dokter mau mendengarkan keluhan pasien, menjawab pertanyaan dan menjelaskan situasi pasien, memberi nasihat cukup, serta tidak sekadar memberi resep, sehingga pasien merasa puas.

* Kemampuan berkomunikasi merupakan inti dari pekerjaan dokter. Kepandaian sebenarnya hanya nomor dua. Pasalnya, 60 persen pasien sebenarnya tidak sakit, tetapi mengalami kelainan fungsional. Hanya 40 persen yang benar-benar sakit, itu pun 20 persennya akan sembuh sendiri.

Lalu, bagaimana menghadapi dokter yang tidak komunikatif? Konsultan gastroenterologi-hepatologi ini menyarankan untuk meninggalkan ruangan dan segera pindah dokter jika memungkinkan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.