PENDIDIKAN

Karawitan untuk Terapi Anak Autis

Kompas.com - 11/06/2010, 15:00 WIB
Editor

YOGYAKARTA, KOMPAS - Seni karawitan dinilai efektif sebagai terapi pendidikan bagi anak-anak penderita autis. Selain menenangkan, bermain karawitan dapat melatih anak-anak penderita autis untuk menyelaraskan kerja otak dan gerakan mereka. Sekolah luar biasa (SLB) khusus penyandang autis SLB Bina Anggita Wonocatur, Banguntapan, Bantul, memberikan kesempatan berlatih karawitan bagi siswa-siswinya. "Saat bermain karawitan, mereka melatih fungsi motoriknya dan menyelaraskan antara kerja otak dengan gerakan," kata Kumalasari, guru kelas V SLB Bina Anggita di Yogyakarta, Kamis (10/6).

Menurut Kumalasari, anak-anak penderita autis sangat cepat menghafal not-not lagu. Mereka juga mempunyai daya tangkap yang cepat sehingga bisa menyerap pelajaran karawitan dengan mudah.

Akan tetapi, sebagian besar mereka mengalami kesulitan menyelaraskan tempo permainan pada awal-awal latihan. Baru setelah tiga bulan berlatih, anak-anak penderita autis dapat menyesuaikan gerakan dengan tempo tembang.

Dalam delapan bulan berlatih, seorang siswa penderita autis bisa menguasai 6-8 tembang karawitan. Arka Herdi Atmaja (12), misalnya, saat ini mampu memainkan komposisi saron enam tembang Jawa setelah berlatih delapan bulan.

Kelompok karawitan SLB Bina Anggita turut dalam pentas seni dan budaya bagi penyandang cacat "Inklusi Dalam Seni dan Budaya" di Kampus Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis kemarin.

Pentas seni diselenggarakan untuk memperingati milad ketiga Pusat Studi dan Layanan Difabel (PSLD) UIN Sunan Kalijaga bekerja sama dengan Persatuan Tunanetra Indonesia, International Council for Education of People with Visually Impairment, dan Nippon Foundation. Pentas seni diikuti 45 penyandang cacat. Selain karawitan, pentas seni juga menampilkan pantomim oleh penyandang bisu-tuli, pertunjukan musik oleh penyandang tunanetra, dan seni tari oleh pelajar tunagrahita dari SLB Dharma Rena Yogyakarta.

Rofah dari PSLD UIN Sunan Kalijaga mengatakan, kegiatan seni dan budaya sangat dekat dengan penyandang cacat. Mereka umumnya mempunyai kepekaan lebih tinggi pada satu bidang seni budaya tertentu daripada orang-orang normal. "Kegiatan seni budaya juga merupakan salah satu media mereka untuk mengekspresikan diri," katanya. (IRE)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.