Keguguran, Mengapa Bisa Terjadi?

Kompas.com - 17/06/2010, 08:37 WIB
Editordin

KOMPAS.com - Keguguran bukanlah sesuatu yang diinginkan. Jika cara hidup kita sehat selama masa kehamilan, niscaya hal itu dapat dihindarkan. Jika tetap terjadi? Yakinlah, keguguran bukan akhir segalanya

Perjalanan nasib tiap manusia memang sulit diramalkan. Ada kalanya kita mendapat kesenangan, tapi di lain saat ditimpa kemalangan. Tak jarang pula, kesenangan dan kemalangan datang berbarengan.

Contohn yang sering terjadi, Anda begitu mengharapkan kehadiran seorang anak. Setelah Anda hamil, ternyata setelah usia kehamilan beberapa minggu Anda mengalami keguguran.

Kejadian itu terulang kembali pada kehamilan keduanya. Sebabnya pun tak jelas diketahui. Kata orang-orang tua, mungkin terlalu lelah.

Keguguran spontan
Apa sebetulnya yang disebut keguguran? "Keguguran adalah peristiwa keluarnya janin dan plasenta secara spontan dari rahim sebelum usia kehamilan 20 minggu," jelas dr Karno Suprapto, DSOG, dari RS Pondok Indah.

Umumnya, seperti dijelaskan dr Karno, gejala keguguran ditandai perdarahan yang disertai rasa sakit di bagian bawah perut. Sayangnya, tak semua wanita sadar bahwa ia tengah mengalami keguguran. Hal ini terutama sekali berlaku bagi wanita yang siklus menstruasinya tak teratur. Mungkin mereka menduga terlambat datang bulan dan darah yang keluar cukup banyak, berbeda dari biasanya. Padahal, bisa jadi ia tengah mengalami keguguran.

Pada kenyataannya keguguran cukup banyak terjadi. Apalagi keguguran yang terjadi pada trimester pertama. Ini disebabkan kejadiannya hampir tak berbeda dengan terlambat datang bulan. "Data penelitian menunjukkan, sekitar 10-20 persen dari kehamilan mengalami keguguran spontan," jelas dr Karno.

Faktor penyebab
Penyebab keguguran sangat beragam. Secara garis besar, dibagi dalam 4 faktor, yaitu faktor genetik, masalah hormonal, infeksi, dan faktor-faktor yang tak diketahui.

* Faktor Genetik
Sel-sel manusia yang normal mengandung 46 kromosom. Sel telur mengandung kromosom XX, sedangkan sperma mengandung kromosom X dan kromosom Y. Kendati demikian, adakalanya terjadi ketidaksempurnaan seperti jumlah yang kurang (misalnya 45) atau jumlah berlebih (menjadi 47). Keadaan ini mengakibatkan ketidaknormalan pada janin.

Faktor ibu memberi pengaruh sebesar 60 persen, sedangkan ayah berpengaruh 40 persen pada peristiwa keguguran. "Jadi, tak benar jika hanya ibu yang bisa mengakibatkan keguguran," tegas dr Karno.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.