Artritis Reumatoid Bisa Timbulkan Cacat

Kompas.com - 12/10/2010, 10:13 WIB
EditorAsep Candra

JAKARTA, KOMPAS.com - Jangan sepelekan rasa nyeri pada persendian yang disertai bengkak, merah, sakit jika digerakkan dan sudah berlangsung lebih dari 6 minggu. Bisa jadi hal itu adalah gejala Artritis Reumatoid (AR). Bila tidak segera ditangani, AR bisa menyebabkan kecacatan.

Artritis reumatoid sebenarnya berbeda dengan penyakit rematik. Penyakit ini merupakan penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan sendi kronik. Rematik akibat peradangan ini sampai sekarang tidak diketahui penyebabnya.

"Ada dugaan karena faktor genetis, namun ada juga yang menyebutkan karena infeksi dan faktor lingkungan yang merangsang sistem imun untuk menyerang jaringan tubuh yang normal," kata Prof.Dr.Harry Isbagjo, Sp.PD-KR, Guru Besar Divisi Reumatologi FKUI/RSCM dalam acara media edukasi memperingati Hari Artritis Reumatoid Sedunia, di Jakarta (11/10).

Sampai saat ini, para ahli masih terus mencari apa penyebab penyakit yang bisa menimbulkan kecacatan ini. "Yang pasti penyakit ini tidak ada hubungannya dengan makanan tertentu, seperti pada penyakit gout (asam urat)," kata Harry.

Penyakit AR tidak bisa dianggap remeh karena bisa merusak tulang rawan, tulang, tendon dan ligamen sendi yang terkena. Penderita penyakit AR juga sering mengalami deformasi sendi sehingga kehilangan mobilitasnya. Di Indonesia, jumlah penderita AR diperkirakan sekitar 0,1-0,3 persen dari jumlah penduduk dan lebih banyak menyerang orang dewasa dan wanita.

Gejala utama penyakit ini selain bengkak dan kemerahan adalah nyeri pada banyak sendi. "Kebanyakan sendi yang diserang simetris atau kiri kanan. Misalkan pundak kiri dan kanan atau kedua bagian tangan," papar Harry. Ciri khas lainnya adalah adanya benjolan-benjolan (nodul rematik) serta rasa kelelahan.

Meski jumlah penderita AR sedikit, namun penyakit ini sangat progresif dan paling banyak menyebabkan kecacatan. "Kerusakan sendi sudah mulai terjadi pada 6 bulan pertama dan jika tidak diobati bisa terjadi cacat dalam 2-3 tahun," tambah mantan Ketua Umum Ikatan Reumatologi Indonesia ini.

Menurut Harry, pengobatan utama penyakit AR adalah untuk memperbaiki fungsi sendi, mencegah kecacatan dan disabilitas. "Belum ada obat untuk menyembuhkan penyakit ini, obat yang sekarang ada hanyalah untuk mengurangi gejala dan mencegah perjalanan penyakit.

Pengobatan dini terbukti dapat mencegah perburukan penyakit AR. Karena itu masyarakat diharapkan mewaspadai gejala awal penyakit AR.  

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.