Abu Vulkanik Bahayakan Kesehatan

Kompas.com - 08/11/2010, 20:42 WIB
EditorErlangga Djumena

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Abu vulkanik yang tersebar luas akibat letusan Gunung Merapi berpotensi membahayakan kesehatan. Tingginya konsentrat abu vulkanik bisa memicu berbagai penyakit pernapasan hingga kanker. Masyarakat diimbau untuk terus menggunakan masker selama udara masih mengandung abu vulkanik.

Menurut dokter dari RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, Bambang Sigit, beberapa korban yang dirawat inap akibat debu vulkanik adalah mereka yang menghirup debu sangat pekat. "Mereka umumnya tinggal di permukiman yang dekat dengan puncak Gunung Merapi. Jika konsentratnya tinggi bisa timbulkan radang paru-paru yang mematikan," ujar Bambang, Senin (8/11/2010).

Abu vulkanik juga bisa memicu munculnya penyakit pernapasan kambuhan, seperti asma atau sesak napas. Warga di wilayah Kota Yogyakarta hanya mengeluhkan beberapa penyakit pernapasan ringan akibat debu vulkanik seperti batuk. Beberapa gas berbahaya yang terkandung dalam abu vulkanik, antara lain, sulfur dioksida dan karbon monoksida.

Partikel lain yang terkandung di abu vulkanik adalah silika. Silika yang merupakan komponen penyusun kaca ini bisa bersifat karsigonik dan bisa menimbulkan penyakit kanker. "Ini berdasarkan hasil studi di bidang industri. Hingga kini belum ada penelitian dampak jangka panjang abu vulkanik terhadap kesehatan," tambahnya.

Untuk menghindari beragam penyakit, warga diimbau menggunakan masker berjenis N 95 yang berbahan kain dan lebih rapat. "Masker bedah berwarna kehijauan yang saat ini banyak digunakan masyarakat bisa menjadi pilihan dengan harga lebih murah. Masker harus digunakan ketika abu vulkanik bertebaran di udara," kata Bambang.

Menurut Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Tonny Agus Wijaya, partikel abu vulkanik dari letusan Gunung Merapi cenderung tersebar merata karena tertiup angin. Partikel ini bisa menutupi sinar matahari sehingga berdampak pada perubahan cuaca.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang

    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Verifikasi akun KG Media ID
    Verifikasi akun KG Media ID

    Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

    Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.