Asam Amino, Kunci Kebal HIV

Kompas.com - 09/11/2010, 08:33 WIB
EditorAsep Candra

JAKARTA, KOMPAS.com — Mengapa tahap infeksi HIV pada beberapa orang tidak berlanjut menjadi AIDS? Sebuah kajian genetik terbaru menunjukkan, hal itu berkaitan dengan adanya asam amino tertentu dalam tubuh yang mampu menghancurkan sel-sel yang terinfeksi HIV.

Demikian diungkapkan  Bruce Walker, imunolog dan Direktur Ragon Institute of Massachusetts General Hospital, Massachusetts Institute of Technology dan Harvard University di Charlestown. Menurut temuannya, peluang tahap infeksi HIV untuk tidak berkembang menjadi AIDS terjadi pada 1 di antara 300 orang.

Penelitian itu dimulai ketika Walker mengetahui manfaat klinis yang dimiliki oleh pasien-pasein yang memiliki kekebalan terhadap HIV lewat program HIV Controller Study.  "Saya pikir, kita dapat membentuk kelompok untuk menganalisa hal itu. Kita harus menemukan keunikan genetik dari seseorang yang memiliki kekebalan itu," ujar Walker.

Walker bersama timnya lalu mengambil sampel DNA dari 900 pasien HIV Controller atau orang-orang yang punya kekebalan terhadap HIV tadi. Mereka membandingkannya dengan kode genetik yang terdapat pada 2.600 orang yang memberi respons normal terhadap HIV. Untuk membandingkannya, ia menggunakan Genetic Wide Association Study (GWAS).

GWAS akan menganalisa single nucleotide polymorphism atau perubahan satu kode genetik yang memunculkan variasi pada individu tertentu. Melalui kajian itu, Walker menemukan, ada sekitar 300 lokasi yang secara statistik berkaitan dengan kekebalan terhadap HIV tersebut. Lokasi-lokasi itu diketahui berkaitan dengan bagian genetik yang mengode protein kekebalan yang disebut protein HLA.

Menggunakan pemetaan detail dari daerah HLA itu, Walker menemukan adanya asam amino pada protein HLA-B yang berbeda antara individu normal dan HIV Controller. Ia mengatakan, asam amino itulah yang mungkin bertanggung jawab terhadap kekebalan HIV.

"Dari 3 juta nukleotida yang terdapat dalam genome manusia, saya menemukan asam amino yang membuat individu normal dan HIV Controller berbeda," kata Walker.

Protein HLA-B merupakan jenis protein yang bertanggung jawab untuk melawan virus. Namun, sejauh ini belum diketahui mekanisme protein tersebut membangun kekebalan tubuh terhadap HIV. "Kami berusaha mencari tahu apa yang protein tersebut lakukan dan mekanisme pertahanannya. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan," ujar Walker.

Pemahaman tentang mekanisme kerja protein tersebut sangat mungkin mendasari pengembangan vaksin. "Masih butuh waktu lama untuk memahaminya. Tetapi, kabar baiknya adalah adanya pengetahuan tentang sistem kekebalan ini. Hal itu berarti ada kabar bagus untuk vaksin karena prinsip vaksin adalah memanipulasi kekebalan," kata Walker yang mempublikasikan risetnya dalam situs Jurnal Nature, 4 November lalu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang

    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.