Pestisida Menimbulkan Hipotiroidisme

Kompas.com - 22/11/2010, 10:17 WIB
Editor

Semarang, Kompas - Penggunaan pestisida secara intensif di daerah pertanian, khususnya di daerah pantai utara Jawa Tengah, ternyata berpengaruh pada kelompok wanita usia subur 15-49 tahun khususnya reproduksi. Penggunaan pestisida menimbulkan hipotiroidisme, yakni keadaan di mana kelenjar tiroid tidak memproduksi hormon tiroid cukup bagi ibu hamil.

Kasus ini juga ditemukan berkembang di daerah dataran rendah, terutama di sentra pertanian dengan intensitas pemanfaatkan pestisida begitu tinggi dalam pertaniannya.

Demikian hasil penelitian dr Suhartono, staf pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Semarang, yang diangkat sebagai bahan disertasi ujian promosi doktor, Sabtu (20/11). Disertasi Suhartono berjudul ”Waspadai Dampak Hipotiroidisme pada Wanita di Daerah Pertanian”.

”Apabila terjadi pada wanita hamil, hipotiroidisme yang ringan sekalipun dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang janin. Kondisi ini menyebabkan menurunnya kecerdasan dan gangguan perkembangn fungsi motorik pada anak yang kelak dilahirkan,” ujarnya kepada pers, sebelum ujian berlangsung.

Suhartono mengatakan, penyebab disfungsi tiroid sering terjadi di daerah dataran tinggi, yakni kekurangan yodium. Rendahnya kandungan yodium dalam air, tanah, dan produk-produk pertanian di daerah itu menyebabkan asupan yodium kurang.

Akibatnya, kelenjar tiroid kekurangan bahan baku untuk sintesis hormon tiroid. Salah satu tanda disfungsi tiroid adalah terjadinya pembesaran kelenjar tiroid atau sering disebut penyakit gondok (goiter) atau gangguan akibat kekurangan iodium (GAKI).

Selain itu, gangguan klinis hipotiroidisme antara lain kelelahan, lesu, intoleransi dingin, gangguan menstruasi, penyakit gondok, dan sulit buang air besar.

Apabila terjadi pada wanita hamil, menurut Suhartono, hipotiroidisme dapat menyebabkan meningkatnya kelahiran anak-anak yang menderita autisme, anak yang lemah perhatiannya.

”Hipotiroidisme juga dapat menyebabkan infertilitas, abortus spontan, dan bayi yang lahir berat badannya rendah,” ujar dr Suhartono. (who)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.