Menghadapi Balita "Picky Eater"

Kompas.com - 01/12/2010, 09:26 WIB
EditorLusia Kus Anna

Dhea sontak menutup mulutnya ketika Lusi (31), ibunya, menyorongkan sendok yang berisi nasi dengan sayur bayam. Namun, gadis cilik berusia 3 tahun itu dengan gembira melahap nasi dengan sosis goreng setelah sang ibu menyingkirkan sayuran dari piringnya.

Menurut Lusi, putrinya itu setiap harinya hanya mau makan jika diberi lauk sosis atau telur goreng saja. "Ia langsung mogok makan kalau diberi sayur. Padahal saya sudah mengakali supaya sayurnya tidak kelihatan," kata wanita yang berprofesi sebagai dosen ini.

Pemberian makan pada anak balita memang kerap menjadi masalah bagi orangtua. Banyak anak yang menentang orangtua mereka ketika berhubungan dengan makanan dan pola makannya. Anak-anak yang kesulitan makan atau cuma meminta jenis makanan yang sama seperti Dhea tersebut disebut juga dengan picky eater. Anak-anak dalam kategori ini cukup banyak, hampir 50 persen.

Kesulitan makan, menurut dr Aryono Hendarto, Sp.A(K), paling sering dialami anak pada usia 1-5 tahun. "Pada usia ini anak biasanya sangat aktif dan sedang senang mengeksplorasi sekelilingnya. Karena itu, kegiatan makan tidak disukai anak karena dianggap membosankan," papar dokter yang biasa disapa Ari ini.

Sebuah survei menunjukkan, kebanyakan anak yang picky eater hanya mau makan jenis makanan yang lumat seperti bubur (27,3 persen) dan punya kesulitah mengunyah dan menelan (24,1 persen). Akan tetapi, anak picky eater pada usia 2-3 tahun, pada umumnya, hanya menyukai satu jenis makanan tertentu saja.

Meski umum dialami anak balita, dr Ari menegaskan bahwa kesulitan makan bukan sekadar tahap pertumbuhan. "Ada banyak faktor yang memengaruhi mengapa anak jadi sulit makan, misalnya karena memang si anak punya penyakit sehingga tidak berselera makan atau karena faktor psikologis," kata dokter dari Divisi Nutrisi dan Metabolik Anak FKUI/RSCM Jakarta ini.

Dalam mencari penyebab anak kesulitan makan, menurut dr Ari, ada beberapa hal yang perlu dievaluasi orangtua, misalnya, apakah jumlah dan porsi makanan yang diberi sesuai dengan kebutuhan anak. "Ukuran lambung tiap anak beda-beda, jangan sampai kita memaksa anak menghabiskan porsi yang berlebihan," katanya dalam acara parenting workshop mengenai nutrisi untuk anak yang diadakan oleh Abbott Nutrition di Jakarta beberapa waktu lalu.

Orangtua juga perlu menggali karakter anak. Misalnya saja, apakah anak termasuk yang memiliki temperamen sulit atau apakah orangtua sudah menciptakan lingkungan yang sesuai. Selain itu, orangtua juga seharusnya peka pada rasa lapar dan kenyang anak. "Kalau baru satu jam minum susu, jelas dia masih kenyang jika disuruh makan," urainya.

Ketika anak-anak tidak makan dengan baik, kemungkinan mereka tidak akan mendapatkan porsi nutrisi yang dibutuhkan sehingga bisa berdampak pada tumbuh kembangnya. Kendati begitu, sebaiknya orangtua tidak memberikan perlakuan yang salah kepada anak. "Memaksa anak untuk makan justru akan memperparah keadaan," imbuh dr Tjin Wiguna, Sp.KJ (K), psikiater anak.

Ia menjelaskan, jika orangtua ingin mengembangkan pola makan dengan benar, orangtua harus lebih dulu memberikan contoh bagi anaknya. "Bagaimana anak bisa suka sayur kalau orangtuanya tak pernah makan sayur atau memberi komentar buruk pada sayur," katanya.

Orangtua juga diharapkan untuk menciptakan lingkungan yang nyaman, tidak terburu-buru, dan tanpa tekanan. "Anak juga berhak menentukan pilihan ingin makan apa. Sepanjang menyehatkan, penuhi saja permintaan anak," kata dr Tjin.

Pemberian suplementasi seperti susu pada anak yang susah makan, menurut dr Ari, boleh saja jika anak mengalami gangguan pertumbuhan, misalnya berat badannya kurang. "Perlu diingat bahwa suplemen itu bukan pengganti makan sehari-hari. Anak tetap perlu diajari pola makan yang baik," katanya.

Untuk mengetahui kecukupan nutrisi yang diasup anak, orangtua bisa melihat dari grafik pertumbuhan berat badan anak. "Jika dalam tiga bulan berat badan balita tidak naik, berarti memang ia kekurangan nutrisi," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.