Hormon Cinta Usir Sakit Kepala

Kompas.com - 22/12/2010, 15:06 WIB
EditorLusia Kus Anna

Kompas.com - Hormon oksitosin, si hormon cinta yang muncul setiap kali kita berinteraksi dengan rasa kasih sayang, ternyata bisa dipakai sebagai terapi untuk mengatasi keluhan sakit kepala berulang.

Hormon oksitosin biasanya muncul ketika ibu memberikan ASI kepada bayinya. Hormon ini juga terkait dengan timbulnya rasa saling percaya dan ikatan emosional.

Dalam sebuah penelitian terhadap 40 pasien yang diberikan satu dosis oksitosin dalam bentuk obat hirupan, 50 persennya melaporkan sakit kepala yang mereka rasakan berkurang hingga setengahnya. Bahkan, 27 persen pasien ini mengatakan mreka tidak merasakan sakit lagi satu jam kemudian.

Sebagai perbandingan, hanya 11 persen pasien yang diberi semprotan placebo mengatakan sakit kepala mereka berkurang hingga separuh empat jam pasca diberikan semprotan.

Seluruh pasien dalam penelitian ini adalah penderita sakit kepala kronik dan menderita serangan sakit kepala sedikitnya 15 kali dalam sebulan. Penyakit ini diderita oleh sekitar 6 juta orang Amerika. Menurut David Yeomans, peneliti yang melakukan riset ini, seluruh partisipan studi sebelumnya pernah mencoba terapi lain namun tidak merasakan hasil berarti.

"Pasien-pasien ini sudah mencoba berbagai cara dan tidak ada yang bisa mengusir keluhan mereka," kata Yeomans, peneliti dari Stanford University School of Medicine.

Hormon oksitosin bekerja di dalam sistem saraf dengan cara menghambat dikeluarkannya sinyal rasa sakit. Sayangnya efek dari hormon ini agak lama, yakni 4 jam, jauh lebih lama dibanding terapi sakit kepala lainnya.

Saat ini baru dua terapi yang menunjukkan hasil efektif untuk mengatasi sakit kepala kronik, yang pertama adalah suntikan botox. Terapi tersebut sudah mendapat persetujuan dari FDA pada Oktober 2010 lalu. Terapi lain adalah obat yang disebut topiramate.

Meski kedua terapi itu menunjukkan hasil yang signifikan dibanding dengan placebo, namun tidak semua pasien terbantu dengan terapi itu karena penyakitnya sering kambuh kembali.

Kedua jenis terapi juga menimbulkan efek samping, misalnya topiramete yang memengaruhi efek kognisi dan suntik botox harus diulang setiap tiga bulan sekali. Suntik botox juga memiliki efek samping serius, seperti sesak napas dan kesulitan menelan.

Sementara itu terapi oksitosin tidak menunjukkan adanya efek samping. Namun dampak jangka panjang terhadap terapi ini belum diketahui, selain juga jumlah partisipan studi yang terlalu sedikit. Karena itu penelitian lebih lanjut akan dilakukan untuk mengetahui keamanan si hormon cinta ini untuk mengusir sakit kepala.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.