Benarkah Thong Memicu Infeksi Saluran Kemih?

Kompas.com - 27/01/2011, 15:47 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Penggunaan thong saat ini semakin populer, karena perempuan makin sadar untuk menghindari VPL (visible panty line), atau garis celana dalam yang membekas di balik celana panjang atau rok yang dikenakan. Meskipun begitu, banyak juga perempuan yang enggan memakai thong, karena rasa tak nyaman ketika kain yang menghubungkan antara karet pada bagian belakang celana dalam dengan bagian depan celana dalam, terselip ke belahan bokong.

Nah, sekarang ada alasan yang lebih penting untuk mengurangi penggunaan thong. Sebagian perempuan lebih rentan mengalami infeksi dan sejumlah kondisi buruk lainnya saat memakai thong. Jika pernah mengalami infeksi saluran kemih (ISK) atau masalah serupa di area genital, misalnya, Anda pasti disarankan untuk menghindari penggunaan celana dalam ini. Memangnya seburuk apakah efek mengenakan thong?

Bakteri berpindah
Lihatlah dimana konektor bagian belakang dan bagian depan ini diletakkan. Bukankah area tersebut adalah tempat berkumpulnya bakteri? Celana dalam dirancang untuk melindungi area yang sangat sensitif ini dari bahan yang kasar dari pakaian Anda. Namun thong hanya berupa sepotong kain yang kemampuannya melindungi area genital boleh diragukan. Ketika kain ini bergerak (saat Anda berjalan) mungkin saja thong menjadi alat transportasi bakteri dari anus ke vagina. Bakteri kemudian bisa berpindah ke saluran kemih dan kandung kemih.

Bahan yang digunakan untuk thong itu sendiri, bisa saja mengiritasi jaringan halus di vagina dan anus, jika terlalu banyak bergesekan. Akibatnya, bisa terjadi peradangan dan infeksi jika ada luka terbuka. Thong juga disebut-sebut mengakibatkan infeksi jamur dan wasir, yang disebabkan radang pada jaringan dubur. Namun Anda boleh sedikit lega, karena semua risiko kesehatan ini belum dibuktikan secara ilmiah.

Sebenarnya beberapa tahun ini sudah pernah dilakukan penelitian mengenai hubungan antara infeksi dan faktor-faktor perilaku, seperti penggunaan celana ketat, thong, dan tren fashion lain yang diikuti peringatan mengenai efek buruknya. Namun pada tahun 1987 American Journal of Epidemiology menyebutkan, tidak terlihat indikasi yang menunjukkan bahwa tipe pakaian tertentu memengaruhi kasus infeksi tertentu.

Sedangkan studi yang dilakukan Nara Women’s University, Jepang, tahun 1994, menunjukkan tidak ada perbedaan nyata antara pakaian dalam katun dan akrilik dalam menimbulkan keringat di area genital. Bahan katun  memang biasanya disarankan, ketimbang bahan sintetis lain, karena membuat tubuh lebih mudah bernafas. Tetapi studi ini memperlihatkan bahwa responden perempuan yang mengenakan pakaian dalam katun maupun akrilik memiliki suhu kulit dan pakaian yang sama ketika beristirahat atau berolahraga ringan. Satu-satunya perbedaan adalah ketika responden sangat berkeringat, dimana katun menyerap lebih banyak keringat daripada akrilik.

Jadi pada dasarnya, thong itu sendiri tidak akan memberi efek negatif untuk perempuan yang sehat. Bila Anda mengidap ISK atau infeksi jamur, atau jika Anda merasa celana dalam ini menyebabkan iritasi, barulah Anda perlu mengurangi frekuensi pemakaiannya. Bagaimanapun, perpindahan bakteri itu masih mungkin terjadi. Bagaimana bila yang Anda permasalahkan adalah rasa tak nyaman karena sesuatu yang "nyelip" di belahan bokong?

Barangkali, itulah harga yang perlu Anda bayar untuk menghindari garis pinggir celana dalam Anda menjadi perhatian banyak orang.


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X