Waspadai Kanker Hati

Kompas.com - 01/02/2011, 18:41 WIB
EditorAsep Candra

JAKARTA, KOMPAS.com - Hati termasuk dalam organ vital dalam tubuh manusia mengingat tugasnya yang rumit demi kelangsungan seluruh fungsi tubuh. Salah satu penyakit mematikan yang menyerang organ ini adalah kanker hati.

Secara global, kanker hati adalah jenis kanker di urutan ketiga sebagai penyebab kematian tertinggi. Di Indonesia sendiri, terdapat 13.238 kasus kanker hati menurut data riset GLOBOCAN 2008 dengan angka kematian mencapai 12.825.

Sebagian besar kanker hati terdiagnosa pada stadium menengah dan lanjut karena pada tahap awal perkembangannya penyakit ini tidak menunjukkan gejala yang khas. Secara umum gejala kanker hati adalah berat badan menurun, perut terasa penuh, adanya massa keras di sebelah kanan tepat di bawah rongga rusuk, kulit dan mata menjadi berwarna kuning hijau, kelelahan yang tidak biasa, atau rasa tidak nyaman pada abdominal atas sebelah kanan.

Statistik menunjukkan, penyakit ini lebih banyak diderita kaum pria dengan perbandingan 3:1 dengan perempuan.

Menurut Prof.dr.Ali Sulaiman, Sp.PD-KGEH, kanker hati dapat dideteksi melalui tes darah, pemeriksaan Ultrasonografi CT Scan, MRI, atau biopsi.

"Pemeriksaan USG merupakan cara yang sederhana dan murah. Jika ditemukan adanya tonjolan di hati atau terjadi peningkatan penanda tumor baru dilakukan pemeriksaan lanjutan seperti biopsi," katanya.

Pengobatan

Pilihan pengobatan kanker hati tergantung pada jenis dan tahap kanker. Ali menjelaskan, secara umum ada 3 pilihan pengobatan pada kasus kanker hati, yakni reseksi atau pemotongan jaringan yang terkena kanker, transplantasi hati, serta ablasi dengan radio frekuensi.

"Dalam teknik ablasi, digunakan frekuensi radio untuk menghasilkan getaran supaya tumornya rusak. Sementara itu jika hati masih berfungsi dengan baik, pengangkatan tumor menjadi pilihan pengobatan," paparnya.

Bagi pasien dalam stadium lanjut, pengobatan yang dipilih adalah yang sifatnya paliatif atau memperpanjang usia pasien. Salah satu terapi paliatif yang bisa dipilih adalah terapi target.

Terapi target bekerja dengan cara menghambat molekul tertentu yang membantu pertumbuhan dan perkembangan kanker. "Sinyal-sinyal atau pembuluh darah yang menyuplai pertumbuhan kanker akan dihambat sehingga kanker tidak dapat makanan dan akhirnya mengecil," katanya.

Sorafenib merupakan pengobatan oral pertama untuk mengobati kanker hati stadium lanjut. Di Indonesia, pasien yang mendapat obat ini rata-rata bisa diperpanjang usianya 9-11 bulan.

Saat ini pasien kanker hati yang kurang mampu bisa mendapatkan sorafenib lewat program NexPAP yang disponsori Bayer HealthCare dengan Yayasan Kanker Indonesia. Mereka yang memenuhi kualifikasi medis dan ekonomi bisa mendapatkan pengobatan secara cuma-cuma selama 12 bulan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang

    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.