Kencangkan Payudara Kendur dengan Terapi Protein

Kompas.com - 24/02/2011, 11:52 WIB
EditorNadia Felicia

KOMPAS.com - Kebanyakan orang mengutamakan antiaging pada bagian luar tubuh, padahal, bagian dalam tubuh, khususnya organ reproduksi juga butuh bantuan untuk dijaga supaya tak mengalami masalah penuaan dini. Salah satu masalah yang sering terjadi pada wanita berumur adalah masalah hernia rahim (turun berok) atau payudara kendur. Selama ini, salah satu cara mengatasinya adalah melalui operasi atau tindakan medis. Tetapi ada alternatif lain yang bisa membantu atasi kedua masalah ini tanpa operasi, yakni terapi protein.

Dr Liza Suzanna, dari Ultimo Aesthetic & Dental Center mengungkap, saat perempuan beranjak memasuki usia lanjut atau sudah memiliki banyak anak, ia akan mengalami beberapa keluhan pada organ reproduksinya, seperti; penurunan keelastisitasan, otot organ reproduksi kendur, otot perut kendur, hernia rahim (turun berok), hingga gangguan berkemih.

Bagian-bagian tubuh kewanitaan, seperti payudara dan vagina adalah bagian yang cukup sensitif untuk dibahas jika mengalami masalah kesehatan. Bagian-bagian kewanitaan tersebut merupakan bagian penting dalam menjaga keharmonisan dan kehangatan dengan suami. Penting untuk dijaga kesehatan dan keremajaannya. Saat terjadi masalah kekenduran pada otot payudara dan otot rahim, salah satu cara yang biasa dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan tindakan operasi. Namun, ini bukan hal yang nyaman dilakukan. Dr Liza, memperkenalkan tindakan non-operasi untuk mengatasinya, cukup dengan injeksi protein, atau dikenal dengan terapi protein LHX3.

Perbaiki kelenjar pituitary
Kelenjar utama dalam sistem endokrin pada tubuh kita, pituitary, berfungsi menghasilkan hormon yang mengkontrol seluruh fungsi tubuh. Kelenjar yang terletak di bawah otak ini mengatur fungsi endokrin pada tubuh manusia, seperti tekanan darah, detak jantung, pernafasan, kemih, imunitas tubuh, thyroid, dan fungsi reproduksi. Namun, begitu memasuki usia 26 tahun, fungsi pituitary ini menurun secara alami, yang bisa memengaruhi pada fungsi perbaikan sel-sel tubuh, termasuk pada organ intim dan payudara.

Dalam suatu tes di tahun 1942, Profesor John H. Musser, dari Louisiana Medical University, AS, melakukan percobaan yang menghasilkan bahwa terapi protein LHX3 (Lymphatic Homeobox Protein 3) bisa membantu mengobati sekaligus meremajakan fungsi tubuh. Di tahun 2010, para ahli mikrobiologi dari Jefferson Cancer Institute dan beberapa pihak lainnya mengembangkan LHX3 generasi kedua yang terbukti membantu meremajakan tubuh manusia, meningkatkan aktivitas pituitary, mempertahankan aktivitas endokrin, dan mengencangkan organ tubuh dalam 24 jam.

Terapi protein dengan LHX3 ini dilakukan dengan penyuntikan protein kental sebanyak 3mg, minimal penyuntikan 5 kali yang dilakukan sekali seminggu. Hasil yang didapat usai penyuntikan adalah terlihat perubahan yang signifikan dalam waktu 24 jam. Pada responden yang mencoba terapi ini, bahkan menunjukkan elastisitas organ intim meningkat hingga 40 persen.

Titik penyuntikan hormon ini dilakukan pada titik yang berbeda, untuk target rahim yang turun, dilakukan penyuntikan di titik akupunktur antara pusar dan tulang pubis, dan di daerah panggul, sementara untuk pengencangan payudara dilakukan di titik sekitar payudara. Namun, program penyuntikan adalah paket yang berbeda, tidak bisa satu program mendapatkan kedua keuntungan tadi sekaligus. Satu paket untuk satu target.

"Hasilnya permanen hingga si pasien melahirkan lagi. Tetapi umumnya, mereka yang mengambil paket ini memang tidak berencana untuk punya anak lagi. Di Eropa, obat ini sudah digunakan sejak tahun 1997, sementara di beberapa negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia sudah 5 tahun terakhir ini digunakan, di Amerika, obat ini sudah disetujui oleh FDA." jelas dr Liza yang mengingatkan bahwa penyuntikan obat ini hanya boleh dilakukan oleh dokter yang merangkap akupunkturis.

"Belum ada laporan efek samping negatif sejak obat ini dipasarkan. Namun, ada efek samping positifnya, yakni libido meningkat, karena fungsi organ reproduksi kembali meremaja. Alhasil, lubrikan serta kekencangan otot daerah kewanitaan kembali membaik," ungkap dr Liza.

Tertarik? Pastikan Anda mengkonsultasikan dulu keluhan Anda dan memeriksakan kondisi, karena menurut dr Liza, ada 5 tingkatan kondisi seseorang dengan hernia rahim;

1. Keluhan kemih,
2. Keluhan kemih dan nyeri,
3. Keluhan kemih, nyeri, ditambah perubahan bentuk,
4. Keluhan kemih, nyeri, perubahan bentuk dan posisi berubah,
5. Kesemuanya di atas, ditambah timbul benjolan.
Hanya yang mengalami keadaan dari poin 3 hingga 5 yang disarankan menggunakan terapi protein ini. Usai penyuntikan, pasien akan merasakan sedikit nyeri, keram, demam, dan pusing karena yang disuntikkan berupa protein kental. Setelah itu, pasien bisa kembali beraktivitas, meski disarankan agar pasien beristirahat.

Kedengarannya memang mudah, tinggal suntik, tubuh pun akan kembali kencang, plus tidak perlu mengurus luka usai operasi. Namun, "kehebatan" ini tidak datang dengan harga murah, untuk satu paket, 5 kali suntikan (seminggu sekali), pasien dikenakan biaya Rp 60 juta. Tertarik? Silakan hubungi Ultimo Aesthetic & Dental Center yang terletak di Plaza Asia, lantai 2, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 59. Telepon: 5140 1119.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.