Pembangunan Gizi Sasar Balita Pendek

Kompas.com - 28/02/2011, 14:22 WIB
EditorAsep Candra

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida S Alisjahbana menyatakan bahwa permasalahan anak balita pendek (stunting) menjadi fokus intervensi dalam pembangunan gizi di Indonesia untuk periode lima tahun ke depan.

"Kita masih dihadapkan pada tantangan pembangunan pangan dan gizi yang lain yaitu masih tingginya prevalensi anak balita yang pendek," katanya saat peluncuran Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2011-2015 di Jakarta, Senin.

Armida menyebutkan, pada tahun 2007, prevalensi pendek pada anak balita sebesar 36,8 persen. Walaupun pada tahun 2010 prevalensi pendek pada anak balita menurun menjadi 35,6 persen, tetapi masih terjadi disparitas prevalensi stunting antarpropinsi yang cukup lebar yang perlu mendapat penanganan spesifik terutama di wilayah-wilayah rawan pangan.

Menurut dia, masalah gizi sangat terkait dengan ketersediaan dan aksesibilitas pangan penduduk.  Data BPS tahun 2009 mengungkapkan bahwa jumlah penduduk sangat rawan pangan, yaitu penduduk dengan asupan kalori kurang dari 1.400 kkl /orang/hari mencapai 14,47 persen.  Angka itu meningkat dibandingkan tahun 2008 yang mencapai 11,07 persen.

"Perlu kita pahami bahwa masalah akses pangan penduduk sanhat terkait dengan tingkat pendapatan penduduk pada satu sisi dan harga pangan pada sisi yang lain," katanya.

Upaya pemerintah dalam pengentasan kemiskinan dan stabilitas harga termasuk di dalamnya penguatan logistik pangan akan sangat berpengaruh terhadap tingkat aksesiblitas pangan penduduk.

Rendahnya aksesibilitas pangan mengancam penurunan konsumsi makanan yang beragam, bergizi seimbang, bermutu dan aman di tingkat rumah tangga. Keadaan ini pada akhirnya akan berdampak pada semakin beratnya masalah kurang gizi masyarakat terutama pada kelompok rentan yaitu ibu bayi dan anak.

Menurut Armida, Indonesia telah berhasil menurunkan angka kekurangan gizi pada anak balita dari 28 persen pada 2005 menjadi 17,9 persen pada 2010. Penurunan angka kekurangan gizi pada anak balita harus terus dilakukan agar Indonesia dapat mencapai target MDGs pada 2015 sebesar 15,5 persen.   Senada dengan Armida, Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan bahwa prevalensi gizi buruk pada 2007 mencapai sekitar 5,4 persen dan pada 2010 turun menjadi sekitar 4,9 persen.

"Meski membaik, ada persoalan berikutnya yaitu anak balita pendek yang mencapai sekitar sepertiga dari jumlah balita," kata Menkes.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X