Jangan Tinggalkan Rumah dengan Perut Kosong

Kompas.com - 21/03/2011, 13:55 WIB
EditorLusia Kus Anna

Kompas.com - Tak bisa dipungkiri kebanyakan orang gemar melewatkan waktu sarapan. Berbagai hal jadi alasan, mulai dari tak punya waktu, tidak terbiasa, atau karena sedang menurunkan berat badan. Padahal melewatkan waktu makan di pagi hari ini bisa merugikan kesehatan.

Tubuh memerlukan energi untuk beraktivitas. Ketika tidur malam hari, tubuh menggunakan cadangan makanan yang ada untuk melakukan kerja organ-organ vital, seperti jantung, paru atau ginjal. Karenanya saat bangun pagi, cadangan energi (glikogen) biasanya sudah habis, cadangan lemak tinggal sedikit, dan tersisa cadangan protein.

Karena habisnya cadangan glikogen, tubuh memberikan sinyal lapar. Bila tidak ada respon, tubuh akan menggunakan lemak, bahkan protein untuk mempertahankan kadar glukosa dalam darah.

"Jika tidak sarapan, protein akan terpakai sedikit. Padahal protein adalah sesuatu yang perlu disimpan dalam otot untuk bekerjanya organ-organ. Pada orang yang sakit protein akan mempercepat proses kesembuhan. Karenanya jumlah protein harus dijaga," papar dr.Inge Permadhi, Sp.GK, ahli gizi klinik dari FKUI/RSCM Jakarta.

Berkurangnya cadangan glikogen juga akan membuat gula darah turun sehingga kita akan merasa pusing, lelah, mengantuk, bahkan tidak bisa berkonsentrasi saat beraktivitas.

Pada anak-anak, kebiasaan tidak sarapan tersebut bisa memengaruhi kemampuan belajarnya di sekolah. "Anak yang malas sarapan juga terancam kurang gizi, karenanya mereka akan tumbuh pendek," imbuh dr.Inge.

Melewatkan waktu sarapan ternyata juga merugikan orang yang sedang berdiet. "Bila tidak sarapan nafsu makan di siang hari cenderung meningkat sehingga porsi makan juga berlebihan. Lama-lama tentu tubuh menjadi gemuk," katanya.

Sarapan yang baik, menurut dr.Inge, seharusnya mengandung 20-25 persen kebutuhan kalori per hari. "Kalau tidak biasa mengonsumsi makanan berat, boleh porsinya 20 persen saja dari total kalori, tapi nanti ada snack pagi sebelum makan siang," katanya.

Selain karbohidrat, menu sarapan disarankan juga mengandung protein, lemak, serta vitamin dan mineral. Bentuknya bervariasi, misalnya nasi uduk dengan telur, bubur ayam, roti isi tuna dan sayuran, atau oatmeal. Lengkapi dengan buah, jus buah, yoghurt, atau susu.

Kebiasaan sarapan sebaiknya dibiasakan sejak dini. Orangtua bisa memberi contoh dengan cara meluangkan waktu untuk sarapan bersama di pagi hari. "Anak-anak harus dibiasakan sarapan, apalagi pada hari sekolah," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.