Durasi Tidur Pengaruhi Kemampuan Berpikir

Kompas.com - 02/05/2011, 21:47 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com - Penelitian menunjukkan, tidur terlalu sedikit atau terlalu berlebihan berkaitan dengan penurunan keemampuan kognitif. Menurut studi yang dipublikasikan jurnal Sleep, kuantitas tidur berpengaruh bagi mereka yang berusia paruh baya.  Untuk kalangan usia ini, tidur kurang dari enam jam setiap malam dipandang sebagai durasi yang terlalu minim, sedangkan lebih dari delapan jam dipandang sebagai terlalu banyak.

Peneliti dari University College London Medical School melakukan studi antara 1997-1999 dan 2003-2004, yang dilanjutkab ke tahap berikutnya setelah 5,4 tahun. Mereka menanyakan para responden durasi tidur rata-rata per malam dalam sepekan.  Para peneliti juga membandingkan orang yang melaporkan perubahan dalam pola tidurnya dengan responden yang durasi tidurnya tetap selama masa studi.

Dalam proses lanjutan, responden diberi serangkaian pemeriksaan standar guna menilai ingatan, kemampuan mereka mengambil keputusan secara logis, kosakata, status ingatan global dan pengaruh verbal mereka.

Hasil studi memperlihatkan bahwa perempuan yang tidur delapan jam tiap malam memiliki nilai tertinggi pada setiap pengukuran kognitif, lalu diikuti oleh mereka yang tidur selama enam jam.

Bagi pria, fungsi kognitif tidak menunjukkan perbedaan pada mereka yang tidur enam, tujuh atau delapan jam. Namun, tidur kurang dari enam jam --atau lebih dari delapan jam-- berkaitan dengan nilai yang lebih rendah.

"Tidur memberi tubuh kebutuhan hariannya bagi pemulihan dan pengembalian psikologis," kata Jane Ferrie, peneliti senior dari Epidemiology and Public Health    Faculty University College London Medical School.

"Meski tidur tujuh jam tiap malam tampaknya adalah batas optimal buat sebagian besar manusia, banyak orang berfungsi secara sempurna jika rata-rata tidur kurang atau lebih setiap malam," tambah Ferrie.

Namun, karena kebanyakan penelitian dipusatkan pada dampak kekurangan tidur pada sistem biologi, masih belum sepenuhnya dipahami mengapa tidur tujuh jam adalah optimal --atau mengapa tidur lama tampaknya malah merugikan, kata Ferrie.

"Kekurangan tidur kronis menghasilkan hormon dan zat kimia di tubuh yang meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke, serta kondisi lain seperti tekanan darah tinggi, peningkatan kolesterol, diabetes dan kegemukan," papar ilmuwan tersebut.

Penelitian lain menunjukkan, kurang tidur bisa melenyapkan hormon yang mengendalikan nafsu makan. Akibatnya, keinginan untuk menyantap makanan berlemak dan tinggi karbohidrat akan meningkat, sehingga membuat seseorang cenderung mengasup kalori tinggi. Seiring berjalannya waktu, kebiasaan ini dapat menyebabkan penambahan berat badan. 

Dalam penelitian pada kembar identik oleh ahli dari University of Washington ditemukan, mereka yang tidur 7-9 jam setiap malam, rata-rata indeks massa tubuh mereka 24,8, hampir dua poin lebih rendah daripada rata-rata Indeks Massa Tubuh (BMI) mereka yang kurang tidur.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.