Hidup Berlanjut dengan "Stoma"

Kompas.com - 12/06/2011, 13:22 WIB
EditorLusia Kus Anna

Hanif juga masih mampu menyetir mobil sendiri wira-wiri rumah sakit. ”Padahal, banyak penderita kanker yang juga sama-sama dikemo atau radioterapi mesti didorong dengan kursi roda. Ada juga yang masih anak-anak sudah sakit begitu parah,” ujarnya.

Kini, Hanif meneruskan pengobatan dan menganggap kantong di perut sebagai bagian dari tubuhnya. Melalui masa adaptasi, kantong stoma itu sudah tidak dirasakannya sebagai kendala.

Dengan kantong di perut itulah kini ia bekerja dan menikmati beragam aktivitas: mulai dari memotret, seminar, hingga belajar bermain ski di pegunungan Jepang, sambil terus berobat.

Mahir berkantong

Yuliana (56) bisa dikatakan sebagai penyandang stoma ”senior”. Dengan gerakan gesit dan nada bicara penuh semangat, Yuli—begitu ia biasa dipanggil—tak mengesankan bahwa kanker usus besar telah membuatnya menjadi ostomate (penyandang stoma) selama 15 tahun.

Semangat terasa dialirkan Yuli kepada orang-orang di sekitarnya. Di gudang kantong stoma Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Yuli menjadi sukarelawan yang melayani sekaligus menjadi motivator bagi para ostomate yang datang. Di gudang YKI ini, kantong stoma dapat diperoleh dengan harga jauh lebih murah.

Ketika divonis kanker pada 1996, Yuli bertekad sembuh agar ia bisa membesarkan anak semata wayangnya. Ia sudah menjadi orangtua tunggal bagi Inka (kini 33 tahun) sejak putrinya itu berusia 4 tahun. Beruntun musibah yang menyusul penyakit itu pun tak jua mematahkan semangatnya.

Sebulan setelah operasi, ibunda Yuli meninggal dunia, disusul sang ayah yang juga wafat sebelum Yuli merampungkan kemoterapi. Tak lama setelah rangkaian kemoterapi tuntas, ia di-PHK karena perusahaan tempatnya bekerja tak luput dari gelombang krisis ekonomi 1997-1998.

Sambil melawan penyakit, mulailah Yuli melakoni macam-macam pekerjaan untuk menghidupi diri sendiri dan putri tunggalnya. Ia berdagang peralatan dapur dan kosmetik sambil bekerja lepas menyusun pembukuan usaha.

Ke mana pun ia pergi hingga saat ini, Yuli selalu menggunakan kendaraan umum. Masa-masa sulit di kendaraan umum ketika ia masih menjadi ostomate ”pemula” sudah terlalui. Kini ia sudah mahir menjaga agar tak terjadi kebocoran kantong stoma yang bisa sangat menyusahkannya di jalan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X