Nikmatnya Menjadi Petani Organik

Kompas.com - 15/06/2011, 02:23 WIB
Editor

Cornelius Helmy

Uu Saeful Bahri hanya bisa mengelus dada saat beberapa warga menertawakan cara tanam padi yang dilakukannya. Bila biasanya petani membutuhkan 30-40 kilogram benih per hektar, ia hanya membutuhkan 5-7 kilogram. Selain itu, bila petani biasanya menanam padi lima pohon per lubang, ia hanya menanam satu pohon per lubang.

”Mereka bilang kalau ada keong atau hama yang lain, bisa-bisa padi dimakan semua, saya bakal gagal panen dan rugi. Banyak lagi yang mereka tertawakan, seperti air di sawah yang tidak tergenang atau lahan yang tak ditaburi pupuk kimia,” cerita Uu mengingat peristiwa 12 tahun lalu.

Namun, nada pesimistis itu perlahan lenyap berubah menjadi kekaguman. Pola tanam yang dilakukan Uu ternyata memberikan hasil yang jauh lebih banyak dan berkualitas. Satu hektar lahan sawahnya bisa menghasilkan 10 ton gabah kering dengan modal Rp 1 juta-Rp 2 juta per musim tanam.

Hal itu berbeda dengan lahan petani konvensional yang maksimal hanya menghasilkan 7 ton gabah dan menghabiskan modal hingga Rp 5 juta per musim tanam.

Perbedaan harga pasarannya pun tinggi. Beras organik dijual hingga Rp 10.000 per kilogram (kg), sedangkan dengan bibit yang sama, padi konvensional paling tinggi terjual Rp 7.000 per kg.

”Ejekan mereka lalu berubah jadi rasa penasaran. Banyak petani ingin mengetahui apa rahasianya,” kata Uu.

Karena itu, cara tanam yang dilakukan Uu pun menjadi tontonan. Sejak menyemai benih hingga menanamnya di sawah, banyak warga berjejer di pematang sawah. Beberapa yang tertarik lebih jauh memberanikan diri bertanya dan spontan minta diajari cara menanam seperti yang dilakukan Uu.

”Tak ada sakit hati. Justru saya senang berbagi kemampuan demi hasil yang lebih baik,” katanya.

Metode yang diterapkan Uu adalah cara tanam padi organik. Metode ini intinya adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktivitas tanpa menghancurkan kualitas tanah. Setidaknya ada empat rekayasa teknis yang dibutuhkan di sini, yaitu persiapan benih berkualitas, pengolahan tanah teratur, pemupukan yang tepat menggunakan kompos dan pupuk hijau, serta pemeliharaan yang telaten dan teratur.

Halaman:

Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.