KB Tekan Angka Kematian Ibu

Kompas.com - 06/07/2011, 04:27 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Revitalisasi program Keluarga Berencana diyakini mampu menekan angka kematian ibu melahirkan di Indonesia. Revitalisasi KB akan diikuti upaya menghidupkan kembali infrastruktur di daerah, salah satunya pos KB.

Hal itu dikemukakan Kepala Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarief dalam pertemuan dengan wartawan bertajuk ”Penggunaan Kontrasepsi untuk Mengurangi Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia”, Selasa (5/7), di Jakarta.

Menurut Sugiri, program KB akan mengurangi risiko kematian ibu melahirkan. ”Kalau semua ibu ikut program KB dan persalinan ditangani petugas kesehatan, dengan sendirinya risiko kematian ibu saat melahirkan akan berkurang,” katanya. Dalam hal ini, KB menjarangkan dan menurunkan jumlah kelahiran.

Ia menambahkan, AKI di Indonesia saat ini 228 per 100.000 kelahiran hidup. Sebagai perbandingan, Malaysia memiliki AKI 31 per 100.000 kelahiran hidup. AKI di Indonesia sama dengan Myanmar yang kondisi negaranya jauh lebih miskin.

Tingginya laju pertambahan penduduk, yaitu 1,49 persen per tahun saat ini, mempersulit upaya menekan AKI di Tanah Air. ”Kalau tak ada upaya besar menekan (laju pertambahan penduduk), target MDG (Millenium Development Goals), yaitu AKI 102 per 100.000 kelahiran hidup sulit tercapai pada 2015,” ujarnya.

Salah satu program strategis pemerintah merevitalisasi KB adalah menghidupkan kembali fungsi petugas lapangan KB (PLKB) dan pos-pos KB di daerah, selain mempromosikan alat-alat kontrasepsi yang terjangkau. Sugiri mengakui, jumlah PLKB se-Indonesia kini berkurang drastis, dari idealnya 75.000 orang kini hanya 24.000 orang.

Untuk mendukung KB sekaligus menekan AKI, tahun ini pemerintah menggulirkan program Jaminan Persalinan (Jampersal) yang meliputi paket layanan mulai dari konsultasi kehamilan, persalinan, hingga pemilihan alat KB.

IUD lebih baik

Pembicara lain, Country Director DKT Indonesia Todd Callahan mengatakan, kematian ibu saat melahirkan bisa dicegah melalui perencanaan keluarga yang baik. Menurut dia, untuk negara berkembang seperti Indonesia, IUD (intra-uterine device) atau dikenal sebagai spiral sangat disarankan karena harganya terjangkau mulai dari Rp 15.000, tanpa efek samping, dan jangka waktu pemakaian hingga 10 tahun untuk sekali pasang.

”Tidak seperti anggapan yang ada selama ini, sebetulnya hampir tidak ada efek samping dari IUD. Alat ini tidak lebih berisiko dari implant (susuk KB) yang bersifat hormonal,” kata Djajadilaga, dokter ahli kandungan dari Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI).

Saat ini, penggunaan IUD di Indonesia kalah populer dibandingkan kontrasepsi jenis lain, seperti suntik, pil, dan susuk KB. Dari 29 juta pemakai alat kontrasepsi di Tanah Air, hanya 8 persen yang memakai IUD. (JON)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.