Kompas.com - 05/08/2011, 07:17 WIB
EditorLusia Kus Anna

Pada awalnya, profilaksis atau on demand dilakukan dengan transfusi darah. Tapi ini menjadi mubazir mengingat yang diambil hanya faktor VIII-nya saja. Lalu berkembang dengan cryoprecipitate atau konsentrat murni faktor VIII yang diambil dari darah manusia.

”Tapi ada banyak kemungkinan di mana pengobatan dengan memasukkan darah bisa saja menyebabkan infeksi atau penolakan dan dampak lain, seperti tertular virus hepatitis, HIV, dan lainnya. Kemudian dunia kesehatan makin berkembang dan ditemukan apa yang disebut rekombinan faktor VIII. Dalam rekombinan, faktor VIII tidak murni diambil dari darah manusia, tapi ada penambahan bahan-bahan pengganti yang bisa berfungsi sebagai pembeku darah. Sampai saat ini belum ada laporan penularan virus dengan penggunaan rekombinan faktor VIII,” jelas drg Tiara Ratnawulan, Bagian Medikal Bayer HealthCare, PT Bayer Indonesia.

Berbeda dengan Thailand, Taiwan, dan China, misalnya, yang sudah lebih mendahulukan profilaksis ketimbang on demand, di Indonesia hemofilia masih lebih banyak ditangani dengan on demand. Artinya, penderita baru diobati saat terjadi pendarahan atau pembengkakan.

”Kami akui, di Indonesia penanganan hemofilia masih banyak dengan cara on demand. Padahal, dengan profilaksis kualitas hidup penderita hemofilia bisa lebih baik, bisa beraktivitas normal, dan kerusakan yang lebih parah bisa dicegah. Memang pengobatan hemofilia terbilang mahal dan tidak semua penderita mampu melakukan profilaksis. Sejauh ini on demand sudah masuk jamkesmas. Tapi kami terus berupaya mendorong pemerintah agar profilaksis bisa masuk dalam jamkesmas mengingat profilaksis dapat mencegah kerusakan lebih parah,” kata dr Novi Amelia Chozie, Divisi Hematologi, Onkologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas kedokteran, Universitas Indonesia-RSCM.

Mr Lin Hsu Ke, Ketua Perkumpulan Hemofilia Taiwan, mengatakan, dalam hemofilia, profilaksis menjadi penting untuk memperbaiki kualitas hidup karena fungsinya sebagai pencegahan. ”Tapi lebih penting lagi kerja sama dokter, pasien, dan keluarga. Semua harus saling mendukung dan menjadi satu kesatuan. Selain itu, kebijakan pemerintah. Di Taiwan, kebijakan dalam dunia kesehatan sangat mendukung penanganan hemofilia, termasuk profilaksis,” kata Lin.

Di Indonesia, tercatat jumlah penderita hemofilia sekitar 1.388 orang. Jumlah sesungguhnya diperkirakan jauh lebih banyak mengingat selama ini banyak orang tak menyadari jika menderita hemofilia. Pada masyarakat awam dan tidak punya pengetahuan tentang hemofilia, gejala lebam-lebam di tubuh, pembengkakan pada sendi, atau bahkan pendarahan kerap dianggap penyakit biasa, bahkan lebih parah dianggap santet. Di wilayah pelosok, keterbatasan alat juga membuat dokter kerap salah diagnosis.

”Karena itu, bila terjadi gejala seperti lebam, bengkak pada sendi, dan pendarahan sebisa mungkin melakukan tes untuk mengetahui apakah seseorang menderita hemofilia atau bukan, karena mengetahui lebih dini dan dilanjutkan dengan profilaksis bisa mencegah kerusakan yang lebih parah,” kata dr Novi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Berbagi, saling dukung, dan tentu saja profilaksis bukan hanya akan membuat penderita bisa berdamai dengan hemofilia, melainkan juga akan membuat kualitas hidup lebih baik. Karena hemofilia bukan alasan untuk meratapi hidup dan tidak melakukan apa-apa....

(Ren)

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Mengenal Bahaya Kurang Tidur yang Tak Bisa Disepelekan

    Mengenal Bahaya Kurang Tidur yang Tak Bisa Disepelekan

    Health
    Penis Lecet

    Penis Lecet

    Penyakit
    Coulrophobia

    Coulrophobia

    Penyakit
    Yang Terjadi Pada Tubuh Saat Kita Terpapar Virus Corona

    Yang Terjadi Pada Tubuh Saat Kita Terpapar Virus Corona

    Health
    Tinnitus

    Tinnitus

    Penyakit
    Rabun

    Rabun

    Penyakit
    Gastroschisis

    Gastroschisis

    Penyakit
    5 Cara Menurunkan Risiko Kanker Paru-paru

    5 Cara Menurunkan Risiko Kanker Paru-paru

    Health
    Lemah Jantung

    Lemah Jantung

    Penyakit
    Mengenal Gejala Kanker Paru-paru Stadium 2

    Mengenal Gejala Kanker Paru-paru Stadium 2

    Health
    Agranulositosis

    Agranulositosis

    Penyakit
    8 Gejala Prostatitis yang Pantang Disepelekan

    8 Gejala Prostatitis yang Pantang Disepelekan

    Health
    Edema Paru

    Edema Paru

    Penyakit
    7 Makanan yang Pantang Dikonsumsi Ibu Hamil

    7 Makanan yang Pantang Dikonsumsi Ibu Hamil

    Health
    Balanitis

    Balanitis

    Penyakit
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.