Rokok Masih Jadi Penyebab Utama PTM

Kompas.com - 16/08/2011, 09:37 WIB
EditorAsep Candra

JAKARTA, KOMPAS.com — Penyakit tidak menular (PTM) atau disebut juga noncommunicable disease (NCD) merupakan salah satu tantangan utama dunia kesehatan, khususnya di negara-negara berkembang di dunia, termasuk Indonesia.

Di Indonesia, proporsi angka kematian akibat penyakit tidak menular  meningkat dari 41,7 persen pada 1995 menjadi 59,5 persen pada 2007. Hasil Riset Kesehatan Dasar 2007 menunjukkan tingginya prevalensi penyakit tidak menular di Indonesia, seperti hipertensi (31,7 persen), jantung (7,2 persen), stroke (0,83 persen), dan diabetes melitus (1,1 persen).

Selain karena perubahan pola hidup masyarakat yang meliputi pola makan tak sehat, rendah serat, tinggi lemak, garam, serta gula berlebih, kebiasaan merokok menjadi penyumbang terbesar penyebab utama terjadinya penyakit tidak menular di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan pengamat masalah kesehatan yang juga mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia dr Kartono Muhammad di sela-sela acara diskusi "Tingginya Angka Kematian akibat Penyakit Tidak Menular di Indonesia", Senin (15/8/2011), di Jakarta.

Seperti diketahui, epidemik penyakit tidak menular sudah menjadi fokus perhatian dunia. Di tingkat global, pada 19-20 September mendatang akan dilaksanakan NCD Summit di New York, di mana setiap negara menyampaikan status terkini tentang kasus penyakit tidak menular di negara masing-masing.

"Rencananya pertemuan tersebut akan dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dan, saya pikir SBY tidak akan berani datang karena kalau dipertanyakan usaha yang telah dilakukan selama ini dalam mengendalikan rokok, tidak ada sama sekali," ucapnya.

Kartono mengatakan, lambannya pengesahan rancangan peraturan pemerintah mengenai tembakau, hal itu tidak terlepas dari terlalu kuatnya intervensi industri rokok serta ketidakpedulian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat.

"Bentuk intervensinya berupa duit, ke individu-individu. Para birokrat dan anggota parlemen tidak pernah memikirkan rakyat. Mikirnya hanya duit untuk dirinya sendiri. Dengan pemerintah yang sekarang, saya pesimistis karena sudah bau asap rokok semua. Kemungkinan susah sekali diimplementasikan. Akan banyak hamabatan," tuturnya.

Menurut dia, salah satu upaya yang saat ini dapat dilakukan pemerintah untuk menekan rokok adalah menaikan harga cukai yang substantif dan melarang penjualan rokok secara ketengan (batangan).

"Kalau cukainya tinggi, jadi orang miskin sama anak kalau mau beli rokok mikir. Kalau beli ketengan, besar pengaruhnya, terutama dalam mencegah anak-anak,” ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.