Penggunaan Obat Generik Cuma 11 Persen

Kompas.com - 04/10/2011, 05:34 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Tak adanya sistem jaminan kesehatan yang baik membuat pasien harus membayar harga obat jauh lebih mahal dibandingkan seharusnya. Pasien tak bisa memilih jenis obat dan tak tahu harganya. Mereka hanya diwajibkan membayar saat menebus resep.

Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Sri Indrawaty dalam seminar internasional Akses terhadap Obat dan Dampaknya terhadap Kebijakan Obat Nasional di Jakarta, Senin (3/10), mengatakan, penggunaan obat generik di Indonesia hanya sekitar 11 persen dari konsumsi obat nasional.

Kondisi ini jauh berbeda dengan negara-negara lain yang sudah bisa mencapai lebih dari 50 persen. Penggunaan obat generik sangat tinggi karena didukung kesadaran dokter, kuatnya posisi pemerintah terhadap dokter dan industri farmasi, serta tersedianya sistem pembiayaan kesehatan.

Di Indonesia, dokter cenderung meresepkan obat bermerek yang mahal karena tak percaya kualitas obat generik. Dokter juga sering meresepkan obat-obatan yang tak perlu atau berlebihan.

Industri pun enggan memproduksi obat generik karena tak menguntungkan. Namun, menurut Sri, kondisi ini terjadi akibat industri hanya fokus memproduksi obat generik dalam jumlah kecil. ”Peningkatan volume produksi dapat dilakukan jika mereka mau menggarap pasar luar negeri,” ujar Sri Indrawaty.

60 persen untuk obat

Penggunaan obat bermerek membuat komponen biaya obat sangat tinggi. Biaya obat yang ditanggung sebuah perusahaan di Indonesia mencapai 55 persen hingga 60 persen dari total biaya kesehatan karyawannya. Padahal, di Malaysia, komponen biaya obat hanya mencapai 10 persen.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany menambahkan, tak adanya sistem jaminan kesehatan membuat pasien harus membayar sendiri harga obat. Padahal, obat untuk penyakit tak menular yang kini menjadi pembunuh utama di Indonesia harganya puluhan juta rupiah satu paket.

”Jika ada jaminan kesehatan menyeluruh (universal coverage), biaya pengobatan ini akan ditanggung seluruh penduduk secara gotong royong,” katanya.

Sistem jaminan menyeluruh itu juga akan menguatkan posisi tawar pasien karena penyelenggara jaminanlah yang akan bernegosiasi dengan industri farmasi guna menentukan harga obat.

Para pembicara dari Malaysia, Thailand, dan Korea Selatan yang di negara mereka sudah menerapkan jaminan kesehatan menyeluruh menegaskan, butuh komitmen kuat dari pemerintah untuk menerapkan sistem itu.

(MZW)


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X