Batuk, Penyakit Langganan Jemaah Haji

Kompas.com - 16/11/2011, 14:25 WIB
EditorLusia Kus Anna

Kompas.com - Perbedaan cuaca di tanah suci dan Indonesia, serta daya tahan tubuh yang turun menyebabkan hampir 80 persen jemaah haji menderita batuk selama melaksanakan ibadah haji, bahkan terus terbawa hingga pulang kembali ke tanah air.

Batuk pada dasarnya merupakan refleks perlindungan normal yang dirancang untuk melindungi sistem pernapasan terhadap berbagai pencetus. Batuk yang terjadi bisa berupa batuk produktif dengan banyak dahak atau pun batuk kering.

"Batuk yang terjadi pada jamaah bisa karena memang mereka sudah punya permasalahan pada paru sebelumnya, misalnya bronkitis, sinusitis atau asma, yang memburuk selama berada di tanah suci," papar dr.Ari Fahrial Syam, Sp.PD, dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, dalam surat elektronik.

Ia menambahkan, batuk juga bisa terjadi karena adanya iritasi pada saluran pernapasan atas. "Bisa dipicu oleh infeksi virus atau bakteri, atau hanya reaksi alergi misalnya karena debu atau asap. Tetapi batuk juga bisa disebabkan rangsangan dari asam lambung yang naik ke tenggorokan," papar dokter yang pernah menjadi tim dokter petugas haji reguler dan haji khusus ini.

Menurut Ari, kelembaban udara di tanah suci yang rendah serta udara yang kering dan panas juga bisa mencetuskan terjadinya iritasi pada saluran napas. "Aktivitas jamaah yang sering melakukan zikir dan doa yang kadang dilafazkan juga bisa membuat tenggorokan bertambah kering. Selain batuk hal ini juga membuat peradangan pada pita suara hingga suara menjadi serak," imbuhnya.

Biasanya batuk akan menghilang jika infeksi mereda. Tetapi pada umumnya jemaah haji sering tidak beristirahat dengan baik sesampainya di rumah sehingga akan memperburuk batuk yang terjadi.

Perawatan terhadap batuk memang tergantung pada jenis batuk yang dialami. Akan tetapi Ari menyarankan agar memperbanyak istirahat, banyak minum air hangat, serta menghindari makanan yang berminyak, terlalu manis atau dingin.

Walau batuk terkesan sederhana, tapi ada beberapa gangguan batuk yang memang perlu diwaspadai. "Jika gangguan batuk berlanjut, sebaiknya ke dokter apalagi kalau sudah lebih dari dua minggu tidak membaik," katanya.

Pengobatan yang akan diberikan tentu disesuaikan dengan penyebab dari kondisi batuk tersebut. Jika batuk karena infeksi maka diperlukan antibiotika. "Bila karena ada unsur alergi perlu obat anti alergi, jika batuk karena sakit kronis seperti asma yang kambuh maka penyakit dasarnya harus diobati, dan jika karena asam lambung yang berlebih perlu obat-obat penekan asam lambung," jelasnya.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.