Perajin Beralih Produksi Obat Herbal

Kompas.com - 18/01/2012, 03:50 WIB
Editor

CILACAP, KOMPAS - Perajin jamu tradisional di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, siap beralih ke produk herbal untuk menyelamatkan ratusan industri yang kondisinya makin kritis sejak lima tahun terakhir. Dengan menggunakan cara pembuatan obat yang baik, mereka meyakini industri jamu setempat akan kembali berjaya dan produknya diterima masyarakat.

Ketua Koperasi Jamu (Kopja) Aneka Sari Cilacap, Amir Fatah, Selasa (17/1), mengatakan, saat ini pengelola koperasi baru mengupayakan izin baru dan perpanjangan izin usaha jamu kepada pemerintah setempat. ”Kami berharap Pemkab Cilacap mendukung niat perajin jamu tradisional untuk beralih menjadi produsen jamu herbal,” ujarnya.

Industri jamu tradisional Cilacap yang dikenal masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah, kini di ambang kehancuran. Kondisi ini disebabkan rusaknya citra jamu tradisional akibat ulah segelintir pengusaha yang mencampur produk dengan bahan kimia obat (BKO). Akibatnya, jumlah usaha jamu di sektor mikro, kecil, dan menengah yang pada tahun 2006 sebanyak 836 unit, kini tinggal 257 unit.

Namun, Amir optimistis, usaha jamu Cilacap akan kembali bangkit setelah seluruh pengusaha beralih menjadi produsen jamu herbal. Terlebih, saat ini, jamu herbal sedang diminati masyarakat. Selain itu, pengusaha jamu didukung jejaring pemasaran hingga ke luar Pulau Jawa.

Sentra produksi jamu Cilacap tersebar di Kecamatan Kroya, Sampang, Binangun, Adipala, Maos, Nusawungu, dan Kesugihan. Pemasaran jamu hingga ke Jawa Barat, Jawa Timur, bahkan Kalimantan dan Sulawesi.

Menurut Amir, citra produk jamu Cilacap semakin buruk karena banyak pengusaha dari luar daerah menggunakan nama produk Cilacap. Padahal, industri pembuat jamu yang dimaksud sudah lama tak berproduksi. Namun, karena produknya masih dianggap laris, hal ini mendorong pengusaha dari luar Cilacap memproduksinya.

Tatang Mulyadi (32), produsen jamu di Desa Gentasari, Kecamatan Kroya, juga meminta pemerintah daerah mendukung industri yang menyerap sekitar 3.500 tenaga kerja itu. Jika industri jamu tradisional dibiarkan seperti saat ini, akan menyebabkan maraknya pengangguran.

”Kalau pengusaha, mungkin bisa beralih ke industri lain. Tapi, bagaimana dengan para karyawan yang jumlahnya 10-20 orang per pabrik. Mereka pasti akan jadi pengangguran,” ungkap Tatang.

Kepala Dinas Kesehatan Cilacap Bambang Setiyono mengapresiasi niat para pengusaha jamu tradisional Cilacap untuk tidak lagi menggunakan BKO. ”Hal ini kami harap jadi awal kebangkitan kembali Cilacap sebagai sentra jamu tradisional,” ujarnya, seraya meminta setiap produsen memiliki seorang apoteker penanggung jawab. (GRE)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.