Bioresonansi, Tes Alergi Tak Direkomendasikan

Kompas.com - 22/02/2012, 10:22 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com - Pemeriksaan elektromagnetik yang berdasarkan biofisika seperti bioresonansi, atau tes vega adalah metoda diagnosis unproven dan unorthodox atau tak lazim dipakai dalam dunia kedokteran dalam mendiagnosis alergi dan beberapa penyakit. Pemeriksaan ini digunakan tidak berdasarkan dasar ilmiah dan tidak terdapat data ilmiah bersifat penelitian terkontrol yang dapat membuktikan manfaat alat diagnosis ini.

Pemeriksaan vega hanya akan menimbulkan penanganan penyakit yang tidak benar dan menimbulkan beban tambahan biaya bagi pasien dan masyarakat. (Journal Med J Aust 1991; 155: 113-114). Katelaris dan Holgate telah melakukan penelitian buta ganda terkontrol dengan membandingkan pengujian VEGA dengan tes alergi konvensional pada penderita alergi.  Simpulan penelitian tersebut menunjukkan, bioresonansi tidak reproduktivitas atau tak akurat sama sekali sebagai alat diagnostik dan alat terapi. Namun sampai sekarang, produsen alat ini dengan agresif mempromosikan tes dan menawarkan program pelatihan gratis untuk para diagnosticians alergi. Bahkan, sebagian dokter dan klinisipun ikut terpengaruh dengan promosi tersebut

Dalam beberapa tahun belakangan ini, berbagai terapi alternatif banyak bermunculan di Indonesia. Di antaranya adalah terapi lilin, terapi batu giok, terapi kalung, terapi magnetik dan yang terakhir adalah terapi bioresonansi. Saat ini, di berbagai tempat di Indonesia khususnya di Jakarta banyak bermunculan terapi alternatif bioresonansi. Sebagai alat terapi dan diagnosis alternatif, tentunya masih menjadi kontroversi. Meskipun sebagai terapi alternatif, tetapi tetap saja banyak dokter yang menggunakannya.

Dokter dan klinisi yang memakai alat tersebut “mengklaim” bahwa alat ini dapat digunakan mencari dan menyembuhkan alergi tanpa obat. Sedangkan penderita alergi yang sudah frustasi dengan berbagai keluhan yang ada dan sudah bosan minum obat jangka panjang pasti akan tertarik untuk mencobanya. Benarkah alat bioresonansi, bermanfaat secara klinis.

Alergi adalah penyakit konis dan berlangsung lama dan akan hilang timbul timbul sangat mengganggu. Alergi adalah kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap bahan makanan, hirupan atau yang lainnya. Sebagai suatu penyakit kronis yang berkepanjangan, membuat para klinisi maupun penderita kadang frustasi. Akibatnya, banyak timbul terapi alternatif untuk mengatasi keluhan yang berkepanjangan tidak membaik.

Meski ilmu dan teknologi kedokteran sangat maju, tetapi ternyata tak membuat penyakit alergi membaik, bahkan sebaliknya kasusnya semakin meningkat saja. Berbagai keluhan tubuh yang sering dikaitkan dengan gejala alergipun masih banyak diperdebatkan. Seperti migren, kolik, konstipasi, gangguan perilaku dan sebagainya masih diperdebatkan apakah alergi makanan berkaitan dengan gejala tersebut. Tampaknya salah satu penyebab berbagai masalah kontroversi tersebut, sampai saat ini belum ada alat diagnosis yang dapat memastikan penyebab alergi kecuali secara klinis atau eliminasi provokasi. Selain belum jelasnya terungkap misteri alergi, juga didukung oleh tingginya kasus penderita alergi dalam masyarakat. Sehingga peluang bisnis ini dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk menggunakan alat kesehatan komersial.

Bioresonansi

Alat yang digunakan dalam terapi bioresonansi sering disebut sebagai Vega, Biocom, Biovoive dan berbagai sebutan lainnya. Alat bioresonansi pertama kali dikembangkan oleh dokter Jerman Voll Dr Reinhold pada tahun 1958. Kemudian dikembangkan oleh Hans Brugemann dari Jerman sekitar tahun 1976, dan dipopulerkan oleh Dr Peter Schumacher sebagai teknik yang ampuh untuk menyembuhkan alergi, pada tahun 1991. Uji VEGA (atau uji elektrodermal) melibatkan konduktivitas mengukur elektromagnetik dalam tubuh menggunakan Galvanometer jembatan Wheatstone.  Alat baru yang telah dikembangkan adalah versi dari VEGA asli atau tes Voll disebut Dermatron, Quantum. Sistem yang memiliki aplikasi yang sama dan memberikan hasil yang lebih cepat. Produsen alet ini mengkalim dapat menguji 3500 alergen dalam 3 menit.

Cara penggunaannya pun tidak terlampau rumit dan cukup sederhana. Pada proses deteksi dan penyembuhan alergi, pasien duduk di kursi atau berbaring di dekat alat ini. Dari alat tersebut menjulur kabel yang dihubungkan ke elektroda berupa bola yang dipegang pasien. Dan di bantalan tempat duduk atau pembaringan pasien, terdapat kabel lain yang terhubung ke mesin tersebut. Alat elektroresonansi ini bekerja dengan menangkap gelombang energi tubuh, menghasilkan pola gelombang energi yang menyembuhkan. Setelah terapis memasukkan program penyembuhan yang akan dilakukan dan menekan tombol start, maka proses penyembuhan pun berjalan. Setelah selesai, mesin akan mati dengan sendirinya.

Bahkan berbagai pihak mengkalim bahwa alat ini juga bisa digunakan untuk melakukan diagnosa. Ada sesi tes elektroakupunktur untuk mengukur secara fisik kondisi energi pada pusat energi (meridian) dan ditampilkan gambarnya. Dengan begitu, kesimpulan dapat diambil berdasarkan fungsi organ yang terganggu. Dari situ, dengan cepat dapat menemukan pemicu alergi pasien. Bukan sampai di situ ternyata bahwa alat ini juga dikatakan dapat menyembuhkan berbagai penyakit kronis lainnya.

Halaman:

Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengapa Manusia Butuh Protein?

Mengapa Manusia Butuh Protein?

Health
Mengapa Stres Bisa Membuat Kita Jatuh Sakit?

Mengapa Stres Bisa Membuat Kita Jatuh Sakit?

Health
Mengapa Stres Bisa Menganggu Siklus Menstruasi?

Mengapa Stres Bisa Menganggu Siklus Menstruasi?

Health
Pentingnya Vaksin Kanker Serviks

Pentingnya Vaksin Kanker Serviks

Health
Gejala Klamidia, Infeksi Menular Seksual yang Suka Muncul Diam-diam

Gejala Klamidia, Infeksi Menular Seksual yang Suka Muncul Diam-diam

Health
7 Penyebab Hipertensi pada Anak

7 Penyebab Hipertensi pada Anak

Health
Flu Tulang

Flu Tulang

Penyakit
12 Penyebab Hipertensi yang Perlu Diwaspadai

12 Penyebab Hipertensi yang Perlu Diwaspadai

Health
Peripheral Artery Disease (PAD)

Peripheral Artery Disease (PAD)

Penyakit
Kenali Apa itu Flu Singapura, Ciri-ciri, dan Penyebabnya

Kenali Apa itu Flu Singapura, Ciri-ciri, dan Penyebabnya

Health
Sindrom Antley-Bixler

Sindrom Antley-Bixler

Penyakit
8 Cara Mencegah Penyakit Ginjal

8 Cara Mencegah Penyakit Ginjal

Health
Kenali Apa yang Anda Rasakan, Ini Beda Sedih dan Depresi

Kenali Apa yang Anda Rasakan, Ini Beda Sedih dan Depresi

Health
Ciri-ciri Kanker Mulut Harus Diwaspadai Sejak Dini

Ciri-ciri Kanker Mulut Harus Diwaspadai Sejak Dini

Health
10 Kebiasaan yang Memicu Penyakit Ginjal

10 Kebiasaan yang Memicu Penyakit Ginjal

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.