Risiko Diabetes dan Hipertensi Meningkat

Kompas.com - 03/04/2012, 03:42 WIB
EditorTI Produksi

DEPOK, KOMPAS - Kurang gizi pada ibu hamil, dalam hal ini memengaruhi janin, serta pada bayi hingga berumur dua tahun tidak hanya membuat anak menjadi pendek dan kurang kemampuan kognitifnya. Kondisi ini juga menyebabkan organ tubuh tumbuh tak sempurna sehingga meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular saat dewasa.

”Kurang gizi pada 1.000 hari pertama anak memengaruhi perkembangan fisik, kemampuan kognitif, dan organ,” kata dosen Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Endang L Achadi, dalam seminar 1.000 Hari Pertama untuk Masa Depan yang Lebih Baik (1.000 Days for Better Future) di Depok, Jawa Barat, Sabtu (31/3).

Perkembangan tubuh manusia pada 1.000 hari pertama terdiri atas 270 hari dalam kandungan dan 730 hari setelah lahir merupakan proses yang tak bisa diulang. Pada tahap ini, jumlah dan ukuran sel di berbagai organ tubuh berkembang pesat.

Gangguan perkembangan organ antara lain terjadi pada sel pankreas yang memicu penyakit diabetes. Gangguan pada sel nefron di ginjal akan meningkatkan risiko hipertensi.

Hal senada diungkapkan peneliti Pusat Pangan dan Nutrisi Regional, Organisasi Menteri Pendidikan Asia Tenggara (SEAMEO Recfon), Siti Muslimatun. Kurang gizi pada janin dan anak balita akan mengganggu proses metabolisme glukosa, lemak, dan protein yang meningkatkan risiko berbagai penyakit degeneratif.

Data Kementerian Kesehatan Agustus 2011 menyebut, kematian akibat penyakit tak menular mencapai 59,5 persen dari seluruh kematian. Kematian akibat stroke tertinggi (15,4 persen), disusul hipertensi, diabetes, kanker, dan penyakit paru obstruktif kronis. Kematian akibat penyakit tak menular terjadi di kota ataupun desa di semua kelompok masyarakat, baik miskin maupun kaya. Hal sama terjadi pada kasus kurang gizi anak balita yang ditunjukkan lewat pendeknya badan.

Riset Kesehatan Dasar 2010 menyebut, 35,6 persen anak balita memiliki tinggi badan lebih pendek dari seharusnya (stunting). Saat berusia 5 tahun, tinggi badan anak seharusnya 110 sentimeter (cm). Namun, rata-rata anak laki-laki tingginya kurang 6,7 cm dan anak perempuan kurang 7,3 cm. Kesenjangan bertambah hingga dewasa.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ketahanan fisik dan kemampuan kognitif yang rendah akan membuat produktivitas masyarakat Indonesia rendah dan kurang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

Penanganan yang dapat dilakukan adalah melindungi pertumbuhan janin dan bayi sejak sebelum kehamilan. Karena itu penting mempersiapkan remaja, calon pengantin, dan ibu yang berniat hamil untuk makan makanan berimbang, beragam jenis, dan memadai jumlahnya. Dengan demikian, saat hamil, ibu dan janinnya cukup gizi.

Menurut Siti, persiapan kecukupan gizi bagi ibu hamil paling lambat dilakukan 60 hari sebelum janin terbentuk. Pada 20 minggu pertama kehamilan, ibu banyak membutuhkan zat gizi mikro (mikronutrien) dan protein. Pada sisa masa kehamilan selanjutnya, kalori lebih dibutuhkan.

Pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif hingga bayi berumur 6 bulan adalah keharusan. Setelah itu, untuk mencapai tinggi tubuh yang sesuai, perlu kecukupan gizi meliputi mikronutrien, protein, karbohidrat, dan lemak.

Zat gizi mikro dibutuhkan tubuh untuk menghasilkan hormon, enzim, dan substansi lain yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan janin. Zat gizi mikro antara lain zat besi, vitamin A, asam folat, seng, dan yodium. ”Mikronutrien dibutuhkan tubuh dalam jumlah sedikit. Bila kekurangan, dampaknya luas dan sangat berat, seperti gangguan imunitas, komplikasi kehamilan, dan gangguan pertumbuhan janin,” katanya.

Direktur Bina Gizi, Kementerian Kesehatan, Minarto menambahkan, selain intervensi lewat pemberian zat gizi, intervensi lain berkaitan dengan ketahanan pangan, pola asuh, dan pemeliharaan kesehatan juga mutlak diberikan. (MZW)


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Listeriosis

Listeriosis

Penyakit
Jangan Sepelekan, Ini Pentingnya Vaksinasi untuk Kesehatan Paru-paru

Jangan Sepelekan, Ini Pentingnya Vaksinasi untuk Kesehatan Paru-paru

Health
Purpura Trombositopenia Idiopatik

Purpura Trombositopenia Idiopatik

Penyakit
4 Cara Mengatasi Pendarahan Otak

4 Cara Mengatasi Pendarahan Otak

Health
10 Cara Menghilangkan Bopeng Bekas Cacar secara Alami dan Medis

10 Cara Menghilangkan Bopeng Bekas Cacar secara Alami dan Medis

Health
Konstipasi

Konstipasi

Penyakit
Pendarahan Otak, Apa Bisa Sembuh?

Pendarahan Otak, Apa Bisa Sembuh?

Health
Hookworm Infection

Hookworm Infection

Penyakit
Kenali Apa itu Rosacea, Ciri-ciri, Penyebab, Cara Mengobatinya

Kenali Apa itu Rosacea, Ciri-ciri, Penyebab, Cara Mengobatinya

Health
Faringitis

Faringitis

Penyakit
7 Gejala Awal Kanker Mulut yang Harus Diwaspadai

7 Gejala Awal Kanker Mulut yang Harus Diwaspadai

Health
Sakit Perut

Sakit Perut

Penyakit
6 Kebiasaan yang Dapat Menurunkan Imun Tubuh

6 Kebiasaan yang Dapat Menurunkan Imun Tubuh

Health
Pipi Bengkak

Pipi Bengkak

Penyakit
Mengenal Gejala Anemia saat Hamil

Mengenal Gejala Anemia saat Hamil

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.