Cara Gosok Gigi yang Bikin Gigi Rusak

Kompas.com - 06/05/2012, 12:59 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Anda merasa rajin menggosok gigi, tetapi mengapa gigi tidak terlihat bersih, gusinya mengalami abrasi, bahkan muncul lubang pada gigi geraham? Mengapa menggosok gigi tidak membantu gigi menjadi sehat, dan malahan merusaknya?

Sabar, jangan langsung menyalahkan aktivitas menggosok gigi. Jika gigi Anda malah berlubang, membusuk, dan mengakibatkan penyakit gusi, ada kemungkinan cara Anda menggosok gigi selama ini salah. Kenyataannya, menurut prosthodontist (pakar rekonstruksi dan estetika gigi) Dr Michael Lenchner, DDS, ada beberapa kesalahan umum yang dilakukan orang saat menggosok gigi, dan malah menyebabkan kerusakan gigi. Anda pernah melakukannya?

Tidak menggosok cukup lama
Menurut Lenchner, yang juga direktur di New York Dental Forum, sebaiknya kita menyikat gigi selama dua atau tiga menit. Kenyataannya, kebanyakan orang selalu terburu-buru saat menggosok gigi, entah karena ingin segera tidur atau segera beraktivitas. Hasilnya, sedikit sekali orang yang menggosok gigi selama itu. Meluangkan waktu untuk menggosok gigi dengan cermat akan membuat kita yakin bahwa sisa makanan yang terselip di antara gigi sudah benar-benar lenyap.

Tidak memerhatikan saat menggosok gigi
Pastikan Anda menggosok gigi sambil menatap cermin, untuk melihat bahwa sikat gigi telah menyentuh bagian-bagian yang harus dibersihkan. Banyak orang mengabaikan area pada garis gusi, padahal bagian inilah yang terpenting. Di situlah plak, tartar dan bakteri tumbuh dan berkembang bila gusi dan gigi tidak dijaga kebersihannya, menyebabkan gusi menjadi radang dan terinfeksi (gingivitis).

Teknik menggosoknya salah
Yang salah adalah jika Anda menggosok gigi secara menyamping, yang digambarkan Dr Lenchner seperti menggergaji pohon. Cara ini membuat Anda merusak enamel gigi, menyebabkan gigi retak dan rapuh. Yang benar adalah memegang sikat gigi sehingga bulu sikatnya berada pada sudut 45 derajat pada permukaan gigi, lalu sikat dalam putaran-putaran kecil. Fokuslah pada beberapa gigi dulu, lalu pindah ke kelompok gigi berikutnya, dari satu sisi ke sisi yang lain, atas dan bawah, depan dan belakang. Gigi geraham bisa disikat dalam alur garis lurus pada permukaannya. Setelah selesai, seka dari garis gusi untuk membersihkan plak dan bakteri.

Menyikat terlalu kuat
Enamel gigi bisa rusak ketika disikat terlalu kuat. Apalagi jika Anda punya kebiasaan menggertakkan gigi ketika tidur, hasilnya makin parah. Kebiasaan ini, ditambah dengan cara menyikat menyamping seperti disebutkan di atas, dapat menyebabkan lekukan di dekat garis gusi yang disebut lesi abfraksi. Bila tekanannya terus berlanjut, lesi bisa makin dalam ke dentin bagian dalam dan lapisan sementum (substansi yang melindungi akar gigi). Menyikat terlalu keras juga menyebabkan gusi sensitif, iritasi, dan resesi.

Pakai sikat yang salah
Pilih sikat gigi dengan bulu sikat yagn lembut, bahkan "ultrasoft" untuk mengurangi kerusakan. Bahkan bulu sikat yang lembut pun masih bisa menyebabkan abrasi (pengikisan gusi) jika digunakan dengan cara yang salah, kata Lenchner. Meskipun sikat gigi elektrik tidak populer di sini, namun sikat gigi jenis ini menurutnya bisa membantu Anda menjangkau tempat-tempat yang harus dibersihkan. 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sikat gigi juga bisa menjadi tempat berkembang biak bakteri, termasuk streptokokus. Sikat gigi sebaiknya diganti setiap tiga bulan. Jika bulu sikatnya sudah tak beraturan, menekuk, atau awut-awutan, Anda bisa menggantinya lebih cepat. Bulu sikat memang bisa rusak, ujungnya bercabang, lalu bakteri menumpuk pada percabangan tersebut. Untuk mencegah pertumbuhan bakteri, bilas sikat gigi dengan air panas setelah digunakan dan biarkan kering seluruhnya.

Pakai pasta gigi yang kurang tepat
Pasta gigi yang mengandung baking soda baik untuk membersihkan noda, karena sifatnya yang abrasif. Namun itu artinya baking soda juga cukup keras untuk enamel, sehingga Lenchner tidak menyarankan untuk memakainya. Pasta gigi dengan pemutih, menurut Lenchner tidak akan membahayakan gigi, meskipun proses menjadi putih mungkin lebih lama.

Tidak menggunakan dental floss
Flossing perlu dilakukan untuk membersihkan sisa makanan yang tak terjangkau oleh sikat gigi. Lubang gigi biasanya terbentuk pada permukaan dimana dua gigi bersentuhan. Hal itu disebabkan bakteri terjebak di dalamnya, memakan gula dari partikel-partikel makanan, berkoloni, dan memproduksi senyawa kimia yang mengikis enamel gigi, hingga ke lapisan lunak dari dentin di bawahnya. Inilah yang kemudian menimbulkan gigi berlubang.

Cara memakai floss, lingkarkan di jari tengah masing-masing tangan Anda. Gunakan ibu jari dan telunjuk untuk menggerakkan floss di antara dua gigi. Jangan menggunakannya terlalu keras atau ke depan dan belakang, karena bisa melukai gusi. Lingkarkan floss di sekeliling satu gigi, lalu sapukan ke atas dan bawah untuk melonggarkan dan menyingkirkan plak.

Tidak membilas dengan bersih

Gigi yang sudah disikat dan di-floss dengan benar akan melepaskan plak yang mengandung bakteri dari permukaan gigi. Setelah itu, bilas dengan bersih untuk memastikan bakteri hilang selamanya. Gunakan obat kumur bebas alkohol atau yang menggunakan fluoride untuk menguatkan dan membentengi enamel gigi, serta mencegah gigi berlubang. Jika tidak ada obat kumur, berkumur dengan air saja sudah cukup, kok!

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

17 Penyebab Sel Darah Putih Tinggi, Bisa Tanda Infeksi sampai Kanker

17 Penyebab Sel Darah Putih Tinggi, Bisa Tanda Infeksi sampai Kanker

Health
Hernia Hiatus

Hernia Hiatus

Penyakit
Mual Muntah Tanda Kehamilan, Apakah Bisa Jadi Berbahaya?

Mual Muntah Tanda Kehamilan, Apakah Bisa Jadi Berbahaya?

Health
Batuk Kering

Batuk Kering

Penyakit
Minum Air Dingin Setiap Hari, Apakah Buruk bagi Kesehatan?

Minum Air Dingin Setiap Hari, Apakah Buruk bagi Kesehatan?

Health
Katatonia

Katatonia

Penyakit
Tak Hanya Kanker, Ini 3 Penyebab Munculnya Benjolan di Tubuh

Tak Hanya Kanker, Ini 3 Penyebab Munculnya Benjolan di Tubuh

Health
Aneurisma Aorta Abdominalis

Aneurisma Aorta Abdominalis

Penyakit
Penyebab Bisul dan Faktor Risikonya

Penyebab Bisul dan Faktor Risikonya

Health
Pleuritis

Pleuritis

Penyakit
Deodoran Bisa Memicu Kanker Payudara, Begini Alasannya

Deodoran Bisa Memicu Kanker Payudara, Begini Alasannya

Health
7 Penyebab Sering Kentut, Efek Makanan sampai Gangguan Pencernaan

7 Penyebab Sering Kentut, Efek Makanan sampai Gangguan Pencernaan

Health
Pubertas Dini

Pubertas Dini

Penyakit
12 Rekomendasi IDAI untuk Lindungi Anak dari Bahaya Erupsi Semeru

12 Rekomendasi IDAI untuk Lindungi Anak dari Bahaya Erupsi Semeru

Health
8 Manfaat Minum Air Hangat Setelah Makan

8 Manfaat Minum Air Hangat Setelah Makan

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.