Risiko Gangguan Mental pada Bayi Prematur

Kompas.com - 02/06/2012, 11:48 WIB
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Bayi yang lahir prematur memang lebih rentan mengalami berbagai gangguan kesehatan, salah satunya adalah meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental seperti depresi, psikosis, dan juga gangguan bipolar, di kemudian hari.

Gangguan kesehatan tersebut kemungkinan besar karena bayi lahir sebelum perkembangan otaknya sempurna. Para ahli memperingatkan harus ada sebuah perubahan signifikan dalam merawat bayi prematur,  mengingat kini semakin banyak bayi yang lahir secara prematur. Para peneliti dari Institute of Pscychiatry, King College London  mengatakan, saat ini satu dari 13 bayi mempunyai risiko lahir kurang bulan (sebelum 36 minggu). Apabila tidak ditangani, bayi-bayi ini tentu akan berisiko lebih tinggi mengembangkan berbagai masalah penyakit mental.

Demikian dilaporkan para peneliti dari King College London dan Karolinska Institute di Swedia dalam The Archieves of General Psychiatry.  Dalam peneltiainnya, mereka menganalisis data dari 1,3 juta orang yang lahir di Swedia antara tahun 1973 dan 1985.

Hasil temuan menunjukkan, ada sekitar 10.523 orang dirawat di rumah sakit dengan gangguan kejiwaan, di mana 580 dari mereka lahir sebelum waktunya (prematur).

Para ilmuwan mengungkapkan, pada bayi yang lahir dengan usia kehamilan normal (38-40 minggu) risiko terjadi gangguan kejiwaan sekitar 2 dari 1.000 orang. Sedangkan pada kelompok bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 36 minggu risikonya sekitar empat dari 1.000 orang. Sementara itu untuk bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 32 minggu, risikonya jauh lebih besar, enam dari 1.000 orang.

Pada bayi yang lahir sangat prematur (kurang dari 32 minggu) , tujuh kali lebih mungkin mengalami gangguan bipolar dan hampir tiga kali lebih mungkin untuk mengalami depresi.

Namun pemimpin riset, Dr. Chiara Nosarti memperingatkan bahwa risiko tersebut sangat rendah jika bayi prematur lahir dengan kondisi sangat sehat.

"Saya pikir para orang tua tidak harus khawatir. Namun para orang tua harus menyadari hal ini dan memonitor tanda-tanda awal masalah kejiwaan pada anak mereka di kemudian hari," katanya.

 Perlu dicatat pula bahwa orang-orang yang diteliti dalam riset tersebut adalah mereka yang lahir 40 tahun lalu di mana pada masa itu perawatan bayi baru lahir masih belum sebaik sekarang, terutama dalam hal pencegahan kerusakan saraf. Dalam beberapa dekade terakhir ini telah terjadi peningkatan tatalaksana perawatan bayi prematur, salah satunya adalah teknik bantuan pernapasan untuk memastikan oksigen sampai ke otak bayi. Sehingga banyak bayi lahir prematur yang perkembangannya sebaik bayi yang lahir cukup bulan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.