Kompas.com - 16/07/2012, 17:13 WIB
EditorAsep Candra

Benarkah merokok adalah budaya Indonesia? Sesungguh budaya merokok justru datang dari Amerika. Budaya merokok sebenarnya berasal dari Amerika. Merokok untuk pertama kalinya adalah suku bangsa Indian di Amerika, untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. Pada abad 16, ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah Eropa itu ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok mulai muncul di kalangan bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa Indian yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan semata-mata. Abad 17 para pedagang Spanyol masuk ke Turki dan saat itu kebiasaan merokok mulai masuk negara-negara Islam. Rokok tanpa filter atau kretek bukan hanya milik bangsa ini.

Jaman dahulu para merokok menggunakannya tanpa filter atau cerutu. Tetapi dengan semakin majunya pengetahuan disadari berbahaya akhirnya rokok tanpa filter sudah mulai ditinggalkan. Sayangnya, bangsa ini masih terlena oleh budaya kuno Amerika yang sudah mulai ditinggalkan tetapi tetap terus dibudayakan di negeri ini dengan tetap meyakini bahwa kretek adalah budaya bangsa.

Tetapi apabila para perokok tetap bersikeras menganggap sebagai budaya bangsa seharusnya bila budaya tersebut mengganggu kehidupan dan kualitas hidup bangsa apakah harus mati-matian dipertahankan demi harga diri bangsa. Sama juga dengan budaya negatif bangsa ini lainnya, seperti minum tuak, tari dangdut porno, budaya tidak disiplin atau budaya korupsi.

Bangsa besar ini memang harus mati-matian mempertahankan budaya tinggi bangsa ini. Tetapi jangan terlalu bangga dengan budaya buruk bangsa ini. Para perokok selalu paranoid bahwa mereka dipengaruhi oleh tekanan asing untuk menghenntikan kebiasaan merokoknya. Tetapi tidak menyadari bahwa budaya buruk merokok itu justru datang dari Amerika dan saat ini kalau ada orang Amerika yang menghentikan budaya buruk mereka tersebut malah dicurigai membunuh budaya Indonesia.

8. Perokok sebagai penyumbang terbesar negara sebagai cukai rokok.

Pendapat klasik inilah yang selalu timbul ketika rokok diusik sebagai bahan berbahaya. Cukai rokok yang diterima oleh negara tidak sebanding dengan biaya kesehatan yang harus dibayar oleh negara dan masyarakat akibat rokok. Cukai produk tembakau seperti rokok sekitar Rp 40 triliun tahun 2006 dan Rp 77 triliun tahun 2011. Namun, pendapatan APBN tersebut sangatlah kecil bila dibandingkan dengan uang yang harus dikeluarkan untuk biaya pengobatan penyakit akibat rokok. Biaya kesehatan yang harus ditanggung oleh masyarakat akibat rokok diperkirakan sebesar Rp 120 - 180 triliun. Bila seluruh pengobatan nantinya akan dibiayai oleh Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), maka Jamkesmas harus menanggung Rp 80 triliun sisa biaya pengobatannya.

9. Rokok dapat digunakan sebagai obat.

Para perokok bak "ahli kesehatan" mengatakan dengan seuara percaya diri bahwa secara tradisonal rokok kretek adalah baik untuk kesehatan. Bahkan perokok dengan bangganya mengatakan bahwa "katanya" banyak dokter yang mengatakan bahwa rokok bisa jadi obat. Dengan bangganya mperokok mengatakan, bahwa "katanya" dokter yang praktek di Salemba telah melakukan praktek dengan melakukan terapi rokok untuk menyembuhkan kesehatan.

Tidak ada penelitian satupun yang menunjukkan bahwa merokok dapat terbukti sebagai obat. Isu bahwa rokok untuk baik kesehatan itu dicurigai dihembuskan oleh berbagai pihak khususnya produsen rokok yang justru menyesatkan para perokok. Jadi, kalau ada dokter yang berpraktek terapi rokok untuk menyembuhkan penyakit pasti akan ditindak oleh Komisi Etik Ikatan Dokter Indonesia karena menyalahi kaidah ilmu kedokteran karena menyesatkan dan membahayakan penderita.

Kalaupun ada penelitian mungkin saja tembakau atau bahan narkoba yang digunakan sebagai obat tetapi bukan dalam bentuk rokok tetapi dalam bentuk tembakau segar dan dalam jumlah yang berlebihan. Justru tidak bisa dibantahkan osedikitpun bahwa hampir semua penelitian tentang rokok menunjukkan dampak buruk rokok bagi kesehatan.

10. Fidel Castro sudah tua perokok berat masih sehat-sehat saja.

Dokter dan orang kesehatan di dunia bohong besar dan tidak tahu apa tentang bahaya merokok. Buktinya Fidel Castro sudah tua perokok berat masih sehat-sehat saja. Beberapa orang perokok bahkan dengan kasar dan "sok pintar" sering menuduh bahwa dokter tidak tahu apa-apa tentang kesehatan. Buktinya Fidel Catro, Mao Ze Dong atau Mbah Parto kakeknya telah berusia 60 tahun telah merokok tetapi sampai sekatrang masih hidup sehat.

Dengan sombongnya para perokok mengatakan bahwa tetangga saya bukan perokok meninggal dalam usia muda sedangkan saya sehart-sehat saja. Memang banyak faktor mengapa seseorang mengalami usia panjang. Ternyata beberapa gen dalam setiap individu juga berperanan mengapa seseorang dapat tahan dengan berbagai penyakit dan paparan berbahaya di sekitarnya. Tetapi bila ini terjadi bisa saja kelompok ini mungkin Fidel Castro, Mao Ze Dong atau Mbah Parto meski perokok baru meninggal usia 90 tahun tetapi mereka tidak menyadari bahwa teman Fidel Castro yang bukan perokok baru meninggal usia 105 tahun atau 15 tahun lebih lama hidup di dunia.

Penelitian telah membuktikan bahwa diantara ribuan orang yang diteliti usia perokok 15 tahun lebih muda dibandingkan bukan perokok. Sebaliknya dalam kelompok yang rentan bisa saja berumur tidak panjang bila terjadi paparan bahan berbahaya di lingkungannya. Bila pendapat ini terekam oleh otak kelompok individu yang rentan, maka hidupnya akan seumur jagung padahal ingin hidup seperti Fidel Castro. Tua, kaya raya, banyak isteri dan merokok banyak secara bebas.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Penyebab Hipertensi pada Lansia dan Cara Mencegahnya

Penyebab Hipertensi pada Lansia dan Cara Mencegahnya

Health
7 Herbal yang Berkhasiat untuk Menjaga Kesehatan Jantung

7 Herbal yang Berkhasiat untuk Menjaga Kesehatan Jantung

Health
Pelonggaran Aturan Pakai Masker Bikin Cemas, Begini Cara Mengatasinya…

Pelonggaran Aturan Pakai Masker Bikin Cemas, Begini Cara Mengatasinya…

Health
6 Cara Mencegah Kanker Usus Besar

6 Cara Mencegah Kanker Usus Besar

Health
Update Hepatitis Akut: 4 Orang Bisa Sembuh

Update Hepatitis Akut: 4 Orang Bisa Sembuh

Health
4 Gejala Flu Singapura yang Perlu Diwaspadai

4 Gejala Flu Singapura yang Perlu Diwaspadai

Health
Mengapa Sarapan Penting untuk Kesehatan?

Mengapa Sarapan Penting untuk Kesehatan?

Health
Mengapa Manusia Butuh Protein?

Mengapa Manusia Butuh Protein?

Health
Mengapa Stres Bisa Membuat Kita Jatuh Sakit?

Mengapa Stres Bisa Membuat Kita Jatuh Sakit?

Health
Mengapa Stres Bisa Menganggu Siklus Menstruasi?

Mengapa Stres Bisa Menganggu Siklus Menstruasi?

Health
Pentingnya Vaksin Kanker Serviks

Pentingnya Vaksin Kanker Serviks

Health
Gejala Klamidia, Infeksi Menular Seksual yang Suka Muncul Diam-diam

Gejala Klamidia, Infeksi Menular Seksual yang Suka Muncul Diam-diam

Health
7 Penyebab Hipertensi pada Anak

7 Penyebab Hipertensi pada Anak

Health
Flu Tulang

Flu Tulang

Penyakit
12 Penyebab Hipertensi yang Perlu Diwaspadai

12 Penyebab Hipertensi yang Perlu Diwaspadai

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.