Kompas.com - 27/07/2012, 14:42 WIB
|
EditorInggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Kepala SMA Don Bosco Pondok Indah Gerardus Gantur mengungkapkan, satu orang siswa yang diduga menjadi korban kekerasan oleh seniornya (bullying), pindah dari sekolah tersebut. Dalam peristiwa ini, sebanyak tujuh orang siswa kelas I diduga menjadi korban tindak kekerasan pada Selasa (24/7/2012) lalu.

"Keenam siswa kelas satu masih belajar di sekolah. Hanya satu yang sudah tidak masuk kelas, Ar. Orang tuanya sudah menarik anaknya dari sekolah ini," kata Gerard saat memberikan keterangan kepada wartawan, Jumat (27/7/2012), di SMA Don Bosco Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Ar adalah siswa kelas satu yang baru dua hari mengikuti proses belajar di  SMA Don Bosco. Menurut keterangan yang dihimpun pihak sekolah, ketujuh siswa kelas I dibawa oleh delapan orang siswa kelas tiga sepulang sekolah, Selasa lalu. Mereka dibawa ke sebuah tempat di kawasan Arteri Pondok Indah. Di sana, mereka mengalami tindak kekerasan. Ada yang ditempeleng, dijambak, disundut rokok.

Pihak SMA Don Bosco Pondok Indah telah melakukan mediasi antara orangtua korban dan siswa yang diduga melakukan tindak kekerasan. Dari hasil mediasi tersebut tidak mendapatkan jalan tengah, sehingga orangtua salah satu korban melaporkan peristiwa itu ke pihak kepolisian.

Adapun, ketujuh nama siswa yang menjadi korban bullying adalah Ar, Ke, Ju, Yo, Pi, Ja, dan Da. Dua orang diantaranya tidak mendapatkan tindak kekerasan yaitu Ju dan Yos.

Secara terpisah, orangtua salah satu siswa korban, Lanjut Bangun, yang dihubungi Kompas.com, siang ini mengatakan, pihaknya menyerahkan kasus ini ke jalur hukum karena tindakan yang dialami putranya sudah tergolong kriminal. Ia juga melihat tidak ada itikad baik dari siswa pelaku terkait akibat yang telah ditimbulkan dari perbuatannya.

"Kami para orangtua akhirnya mengambil jalur hukum, dengan melaporkan peristiwa ini ke polisi dan melakukan visum. Karena tindakan yang dilakukan sudah sangat luar biasa. Saya kaget. Anak-anak itu melakukan tindakan kriminal, premanisme. Saya tidak mengerti maunya apa. Maka, kami serahkan saja ke hukum," kata Lanjut.

Pihak Kepolisian Resor Jakarta Selatan hingga hari ini telah melakukan pemeriksaan terhadap empat orang siswa korban. Polisi masih melakukan penyelidikan kasus ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang

    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.