Kompas.com - 03/09/2012, 13:59 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com - Di kalangan ahli kesehatan, hubungan radiasi ponsel dengan tumor otak terus diperdebatkan. Ada sebagian ahli meyakini tumor bahkan kanker otak disebabkan penggunaan ponsel yang berlebihan. Namun, sebagian ahli masih belum meyakininya karena sampai saat ini bukti pendukung yang menjelaskan hal tersebut belum cukup.

Menurut ahli bedah syaraf dari Rumah Sakit MRCCC Siloam Jakarta, Dr. Made Agus Mahendra Inggas Sp.BS,  penyakit tumor otak muncul pada seseorang di antaranya karena faktor genetik. Selain itu, pasien yang kerap terpapar radiasi juga bisa berpotensi mengalami tumor otak. Misalnya, bila seorang sering menjalani  pemeriksaan rontgen, maka pada 30 tahun mendatang ia berisiko besar terkena tumor otak.

Hal yang sama juga dapat berlaku pada radiasi ponsel. Diakui Made, memang belum ada penelitian yang secara pasti menyatakan hal tersebut. Namun, sebaiknya masyarakat tetap perlu memperhatikan dan membatasi penggunaan ponsel.

"Sebaiknya ponsel itu jangan dipakai secara terus menerus selama lebih dari dua jam sehari. Kalau mau memakai ponsel yang berdekatan dengan mulut dan telinga, perlu jarak sekitar 1,5 sampai 2 sentimeter," kata Made yang ditemui di Jakarta, Sabtu (1/9/2012)

Ada baiknya juga, orang menggunakan fasilitas pesan singkat ketimbang menelepon. Atau, menggunakan earphone dan mengaktifkan speaker ketika berbicara di ponsel. Kemudian, pada saat beraktivitas dan di malam hari, Made menghimbau agar ponsel tidak ditempatkan dekat dengan tubuh seperti pada kantong celana dan baju.

"Memang banyak produsen ponsel mengatakan radiasinya kecil atau tidak signfikan pengaruhnya. Tetapi, itu dilakukan sebelum marak gadget-gadget baru. Selain itu, risiko besar kecil terkena tumor tergantung pada respon  individunya," ujarnya.

Perdebatan radiasi ponsel ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Menurut laporan yang pernah dipublikasi dalam situs The Punch bulan Mei silang,  seorang ahli bedah otak paling terkemuka Australia Dr Charlie Teo mengajukan pertanyaan provokatif soal kanker otak yang disebabkan radiasi ponsel. Hal yang menggugahnya untuk menulis adalah bahwa dalam praktek sehari-hari, dia semakin banyak menemukan pasien yang menderita atau memiliki tumor di otak.

"Setiap hari saya kedatangan 10 sampai 20 pasien baru, dan paling tidak 30 persen di antara mereka memiliki tumor di bagian otak, dekat dengan telinga. Saya memang bukan ahli dalam masalah radiasi elektromagnetik. Namun sebagai ahli di bidang kanker otak, dan melihat semakin banyaknya penderita kanker ini, saya sekarang ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi," kata Dr Teo.

Menurut Dr Teo, sampai saat ini belum ada pengobatan yang efektif untuk kanker otak. Dan penyakit ini menjadi penyebab kematian kanker tertinggi bagi warga Australia berusia di bawah 39 tahun, dan juga memakan korban lebih banyak anak-anak dan wanita di Australia di bawah 35 tahun dibandingkan kanker lain.

Menurutnya sejauh ini fakta yang tidak terbantahkan mengenai hubungan kanker otak dan HP barulah bahwa (1) masih belum ada kesimpulan yang jelas, (2) pengguna telepon genggam semakin meningkat, dengan sekarang sedikitnya ada 5 miliar pengguna di seluruh dunia, (3) dan bila nanti memang terbukti adanya hubungan antara kanker otak dan HP, maka dampaknya akan melebihi krisis kesehatan lain yang pernah ada sebelumnya.

Sejauh ini, menurut penuturan Dr Teo, penelitian yang ada menghasilkan kesimpulan yang "bias" tergantung dari siapa yang mendanai penelitian tersebut. Dari studi literatur misalnya, yang menyimpulkan adanya hubungan, tidak satupun studi itu dibiayai oleh perusahaan telekom.

Sementara penelitian lain, yang mengatakan tidak adanya hubungan, 75 persen penelitian itu paling tidak sebagian dibiayai oleh industri telekomunikasi.

Penelitian terbesar sejauh ini yang pernah dilakukan yang disebut Studi Interphone - yang dibiayai oleh industri telekom - mengatakan HP tidak menyebabkan kanker, kecuali ada pengguna telepon "berat" ataupun anak-anak, padahal anak-anak tidak dilibatkan dalam penelitian, dengan kesimpulan masih juga mengambang "kemungkinan dampak pengguna berat HP masih perlu penelitian lebih lanjut."

Menurut Dr Charlie Teo, Studi Interphone itu memiliki kelemahan karena tidak melibatkan anak-anak dan juga tidak melibatkan pengguna telepon untuk kepentingan bisnis, dua kelompok yang paling berisiko. "Kita perlu mendesain penelitian yang dari awal sudah benar dengan mengakui bahwa radiasi, bila memang menyebabkan kanker, memerlukan waktu sekitar 10 tahun sebelum menyebabkan kanker." katanya.

Dibantah

Sementara itu, klaim bahwa radiasi ponsel tidak menyebabkan kanker ditemukan oleh para peneliti Inggris. Penelitian besar ini menekankan bahwa tidak ada bukti meyakinkan yang menghubungkan penggunaan ponsel dengan kanker.

Para ilmuwan yang melakukan tinjauan berbagai penelitian yang sudah dipublikasikan sebelumnya menemukan bahwa "tidak ada indikasi risiko apapun" terhadap kesehatan masyarakat dari paparan gelombang radio dari ponsel. Riset dilakukan oleh sebuah organisasi di Inggris yang disebut independent advisory group on non-ionizing radiation (AGNIR), yang bernaung di bawah Health Protection Agency (HPA).

Profesor Anthony Swerdlow, selaku ketua AGNIR, mengatakan, "tidak ada bukti meyakinkan bahwa paparan frekuensi radio menyebabkan masalah kesehatan pada orang dewasa atau anak-anak. Tetapi untuk mengetahui risiko penggunaan ponsel lebih dari 15 tahun masih belum diketahui, karena kita hanya punya sedikit informasi atau bahkan tidak ada sama sekali."

Anthony mengatakan, sedikitnya informasi tentang risiko dari paparan radiasi ponsel di luar 15 tahun dikarenakan kebanyakan orang tidak menggunakan ponsel sampai akhir 1990-an. Peneliti juga mengatakan tidak ada bukti bahwa paparan menyebabkan tumor otak, kanker jenis lain, atau membahayakan kesuburan atau kesehatan jantung.

"Pemantauan harus terus dilakukan karena masih sedikit informasi yang diketahui tentang efek jangka panjang," Anthony menambahkan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.