ARV Juga bagi Orang Tak Terinfeksi HIV

Kompas.com - 07/09/2012, 05:38 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Pemberian antiretroviral terbukti memperbaiki kondisi orang yang terinfeksi virus HIV serta mencegah penularan kepada orang lain. Kini, penggunaan obat ARV ditingkatkan, yaitu untuk orang sehat sebagai langkah pencegahan agar tidak terinfeksi HIV.

”Pencegahan HIV dengan pemberian obat antiretroviral (ARV) sudah disetujui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dikenal dengan pencegahan sebelum pemaparan,” kata Zubairi Djoerban, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, kepada wartawan, Kamis (6/9), di Jakarta.

Obat ARV untuk pencegahan infeksi HIV diminum sekali sehari. Ini berbeda dengan pengobatan pengidap HIV/AIDS yang harus diminum 3-4 kali sehari.

Namun, penerapan di Indonesia, kata Zubairi, membutuhkan legalitas dari Kementerian Kesehatan. Dari sisi ilmiah, penggunaan ARV sebagai pencegahan dipaparkan dalam Konferensi AIDS Se-Dunia Ke-19 di Washington DC, Amerika Serikat, Juli lalu.

Ia mengatakan, pengobatan untuk pencegahan bisa diberikan kepada orang yang berisiko tinggi, seperti kaum homoseksual dan pasangan dari orang yang terinfeksi HIV.

Zubairi menggarisbawahi, pemberian ARV sebagai pencegahan harus dilaksanakan pada orang yang belum terinfeksi HIV/AIDS. Kondisi tulang dan ginjal orang bersangkutan harus bagus karena konsumsi obat ini berlangsung lama atau selama pasangan tidak berubah.

Kurniawan Rachmadi, supervisor tim konselor Unit Pelayanan Terpadu HIV Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, menyatakan, pencegahan sebelum pemaparan memberikan hasil terukur dibandingkan dengan usaha mengubah perilaku.

Tes HIV

Selain pengobatan untuk pencegahan, perlu dilakukan tes Elisa untuk mengetahui ada tidaknya infeksi HIV/AIDS. Jika deteksi dan penanganan pengidap lebih dini, persentase untuk hidup normal semakin tinggi.

”Cukup banyak informasi, jika pasien kami terdeteksi dan diobati lebih dini

dalam 3-6 bulan (pemberian ARV), virus tidak terdeteksi dan kekebalan pulih. Risiko menularkan pun minimal,” kata Rachmadi.

Namun, wacana mewajibkan tes HIV pernah mengundang protes karena dipandang melanggar hak asasi manusia. Menurut dia, dengan kondisi sekarang, hak pengidap yang dilanggar karena tak terdeteksi sejak awal. Padahal, kalau diketahui sejak awal, penyakit itu bisa ditangani dan hidup normal.

Ia mengatakan, kewajiban tes telah dilakukan negara lain, seperti Botswana, Afrika Selatan, dan China. Di AS sedang dibuat ketentuan nasional bagi seluruh warga untuk tes HIV.

Menurut Rachmadi, biaya tes HIV per orang Rp 50.000. Indonesia dengan 200 juta jiwa penduduk diperkirakan memerlukan biaya tes HIV sebesar Rp 10 triliun. (ICH)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.