Listrik untuk Kaum Pedalaman

Kompas.com - 29/09/2012, 03:51 WIB
Editor

Suku Anak Dalam di sekitar Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi, mulai terbiasa dengan teknologi. Televisi, telepon seluler, atau komputer jinjing bukan lagi barang aneh bagi masyarakat di belantara rimba ini. Bahkan sejumlah remaja rimba kini aktif berjejaring sosial melalui internet.

Hanya saja, di tengah hutan yang belum terakses listrik umum, pemanfaatan teknologi tak semudah yang kita bayangkan. Pengendum, remaja rimba di wilayah Makekal, misalnya, sudah dua tahun terakhir memiliki telepon seluler dan laptop (telepon jinjing) untuk menunjang aktivitasnya sebagai relawan sekolah rimba.

Namun, setiap kali pulang ke dalam hutan, laptop lebih sering menganggur. Biaya mengisi ulang baterai laptop dan HP di rimba sangat mahal. Dia harus menyalakan genset yang membutuhkan sekitar 5 liter minyak tanah agar bisa mengalirkan listrik untuk satu malam. Artinya, dia membutuhkan hampir Rp 50.000 per malam hanya untuk listrik. Betapa borosnya.

Dalam kelompok tempat Pengendum tinggal, genset hanya dihidupkan satu kali dalam sepekan karena keterbatasan ekonomi masyarakat. Kesempatan itulah yang digunakan seluruh warga untuk menonton televisi, menerangi rumah, sekaligus mengisi ulang baterai telepon seluler.

Atau, mereka bisa menumpang listrik di rumah penduduk desa terdekat, dengan berjalan kaki paling cepat 3 jam lamanya. Pilihan ini merepotkan, tetapi sebagian orang rimba masih melakukannya hingga kini.

Jangkauan listrik umum di Indonesia baru mencapai 73 persen. Diperkirakan, masih 16,8 juta rumah belum teraliri listrik, sebagian besar berlokasi di pedesaan dan sekitar hutan.

Keterbatasan pemerintah sulit menjangkau listrik 100 persen bagi setiap rumah tangga. Padahal, masyarakat masih sangat bergantung pada layanan tersebut dan cenderung menunggu pemerintah mengadakan program listrik masuk desa.

Kios listrik

Berbeda halnya dengan negara maju seperti Jerman. Kompas mendapati kemandirian masyarakat setempat dalam menghasilkan listrik. Kalangan sipil Jerman secara swadaya telah menghasilkan 53.000 watt listrik, melalui pemanfaatan tenaga surya, angin, dan air.

Sejumlah kelompok peneliti dan usaha di Berlin mencermati peluang bisnis tenaga listrik ramah lingkungan. Dua tahun lalu, mereka membentuk Solarkiosk GmbH dengan menawarkan konsep jasa isi ulang energi listrik di dalam sebuah kios. Wujudnya mirip seperti kios atau warung pada umumnya. Hanya saja, kios ini memberi layanan isi ulang listrik bagi publik yang wilayahnya belum terakses listrik umum. Dengan demikian, kios ini akan lebih banyak hidup di pedesaan dan pedalaman.

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X