Karena Otaknya Besar, Manusia Rentan Kanker?

Kompas.com - 16/10/2012, 15:22 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com - Para ilmuwan dalam suatu kajian ilmiah mengindikasikan bahwa besarnya ukuran otak manusia kemungkinan memiliki andil terhadap munculnya risiko kanker.

Seperti dimuat dalam jurnal PLoS One, peneliti dari Georgia Institute of Technology Atalanta Amerika Serikat berteori bahwa risiko kanker yang dialami oleh manusia mungkin akibat dari besarnya ukuran otak.

Manusia adalah mahluk dengan tingkat kecerdasan tinggi, dan oleh sebab itu pula manusia mempunyai ukuran otak yang lebih besar dibandingkan mahluk lain. Namun akibat ukuran yang besar pula, sel-sel pada tubuh manusia cenderung enggan mematikan dirinya sendiri dan hal ini dapat memicu risiko kanker.

Secara natural, sel-sel dalam tubuh akan mengalami kerusakan atau menghancurkan dirinya sendiri dalam suatu proses yang disebut apoptosis. Apoptosis juga dikenal sebagai proses penting bagi perkembangan tubuh binatang. Ketika binatang tumbuh, otak mereka dengan cepat memproduksi sel-sel neuron, sebelum sel-sel itu kemudian jumlahnya berkurang. Pada usia tertentu, otak binatang dapat dengan mudah menghentikan produksi sel-sel neuron baru.

Dua dari tiga ilmuwan di balik penelitian ini yaitu Gaurav Arora and John McDonald, dalam riset sebelumnya menemukan bahwa gen-gen yang memicu apoptosis pada manusia mengalami tekanan (supresi), sedangkan gen yang membatasi apoptosis justru menonjol.

Riset terbaru para ahli dari Georgia Institute of Technology membandingkan sel-sel kulit dari mausia dan dua jenis primata yakni simpanse dan makaka. Peneliti menemukan, sel-sel manusia cenderung enggan melakukan apoptosis.  Ketika dikontakkan dengan zat pemicu apoptosis, sel-sel manusia kurang memberikan respon signifikan ketimbang sel-sel primata.

Penelitian juga menunjukkan, sedikit sekali sel-sel manusia yang mati, dan mereka butuh zat tersebut dalam konsentrasi yang lebih tinggi. Pada akhir penelitian, sel-sel manusia bahkan tidak menunjukkan perubahan bentuk seperti layaknya dialami oleh sel-sel yang akan mati.

Minimnya apoptosis diduga menjadi penjelasan mengapa otak manusia begitu besar bila dibandingkan dengan ukuran tubuhnya.  Oleh karena otak dari janin manusia jarang sekali memangkas jumlah sel-selnya, hal itu pula yang menyebabkan otak mereka menggelembung.

Percobaan lain menunjukkan bahwa ketika protein yang memicu apoptosis dibatasi pada tikus, otak hewan pengerat ini berkembang menjadi lebih besar.

Besarnya otak manusia juga diduga menjadi penyebab panjangnya usia. Oleh sebab itu pila manusia dapat menghabiskan waktu untuk anak-anaknya dan mempelajari hal-hal baru. Namun, efek buruk minimnya apoptosis justru menempatkan manusia pada risiko timbulnya  tumor, karena penghancuran  sel-sel yang mengalami malfungsi tentu akan menekan  risiko timbulnya kanker. "Mengurangi  fungsi apoptotik diketahui berkaitan dengan timbulnya kanker," kata John McDonald. 


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X