Kompas.com - 19/10/2012, 08:36 WIB
EditorLusia Kus Anna

Jakarta, Kompas - Pos pelayanan terpadu merupakan garda terdepan penjaga kesehatan ibu dan anak. Namun, sejak reformasi, kegiatannya menurun. Pada era otonomi daerah, banyak pemerintah daerah kurang memperhatikan keberadaannya.

”Politik membuat pemberdayaan posyandu (pos pelayanan terpadu) lebih sulit,” kata Ketua IV Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Pusat Soesilawati Soebekti di sela-sela Jambore Kader PKK di Jakarta, Kamis (18/10). Posyandu dikelola kader yang umumnya juga kader PKK.

Bahkan, ada sejumlah partai politik mencoba menarik kader PKK dengan posyandu yang dikelolanya menjadi partisan. ”PKK tidak melarang kader berpolitik praktis, tetapi jangan bawa atribut PKK ke partai dan jangan bawa atribut partai ke PKK,” kata Soesilawati.

Ketua Umum Tim Penggerak PKK Pusat Vita Gamawan Fauzi mengakui, posyandu sempat terpuruk di awal reformasi. Banyak posyandu berhenti beroperasi dan kegiatannya digabung dengan posyandu lain akibat ditinggalkan kader. Banyak kader posyandu berasal dari kelompok ekonomi bawah dan masih menata ekonomi keluarga. Padahal, kader posyandu tidak digaji. Kurangnya pembinaan juga membuat banyak kader hengkang.

Kini, PKK bertekad mengaktifkan kembali posyandu. Dengan 3 juta kader di seluruh Indonesia, posyandu akan direvitalisasi.

”Posyandu tidak hanya untuk layanan kesehatan dasar ibu dan anak, tetapi dapat menjadi wahana penyebaran informasi kepada masyarakat dalam berbagai bidang,” katanya.

Buku Pedoman Umum Pengelolaan Posyandu (2011) menyebut, ada 25.000 posyandu saat pertama kali dicanangkan tahun 1986. Tahun 2009, jumlahnya 266.827 posyandu. Tiap desa/kelurahan punya 3-4 posyandu.

Layanan dasar yang diberikan di posyandu meliputi kesehatan ibu-anak, Keluarga Berencana, imunisasi, gizi, serta pencegahan dan penanggulangan diare.

Kini, kegiatan posyandu lebih beragam. Banyak posyandu juga menyelenggarakan kegiatan bina keluarga balita, kelas ibu hamil dan balita, pencegahan dan deteksi dini penyakit menular, pendidikan anak usia dini, bina keluarga lanjut usia, pengajian, hingga usaha produktif, seperti koperasi, pengajaran keterampilan, dan pemilahan sampah.

”Kami tidak keberatan meski beban kegiatan di posyandu makin besar karena sejak awal niatnya sukarela,” ujar Siti Khoiriyah, Ketua Posyandu Anggrek, Desa Kalikurmo, Semarang. Posyandu ini menjadi juara pertama posyandu peduli tumbuh aktif tanggap (TAT) dalam Kontes Posyandu Peduli TAT 2012. (MZW)

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.