Kurang Gizi Sebabkan Anak Pendek

Kompas.com - 14/11/2012, 17:54 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com Data studi mengenai status gizi anak usia 6 bulan sampai 12 tahun (SEANUTS) menunjukkan, prevalensi anak balita pendek tidak banyak berubah, yakni sekitar 34 persen. Besarnya angka anak balita pendek merupakan indikator masalah kurang gizi.

Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan data Riskesdas 2010 yang menunjukkan angka 35,6 persen. Itu berarti, hampir separuh dari jumlah anak balita kita memiliki tinggi badan lebih pendek daripada seharusnya.

Berdasarkan penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan (Balitbang Kementerian Kesehatan) pada 2010, tinggi badan anak laki-laki Indonesia pada umur 5 tahun rata-rata kurang 6,7 sentimeter dari tinggi yang seharusnya, sedangkan pada anak perempuan kurang 7,3 sentimeter. Anak umur 5 tahun seharusnya memiliki tinggi badan 110 sentimeter.

Tubuh pendek (stunting) terjadi akibat kekurangan gizi berulang dalam waktu lama pada masa janin hingga usia dua tahun pertama kehidupan seorang anak. Sayangnya, masyarakat kita masih belum menyadari bahwa hal tersebut merupakan masalah serius. Stunting dapat berakibat fatal bagi produktivitas di masa dewasa. Hal ini seharusnya tidak diremehkan karena berdampak pada kualitas sumber daya manusia. Untuk menurunkan angka anak balita stunting, diperlukan intervensi sejak kehamilan karena persoalan itu adalah sebuah siklus.

"Saat ini pemerintah fokus pada program 1000 hari pertama, yakni pemeliharaan gizi sejak kehamilan sampai bayi berusia dua tahun," kata dr Atmarita dari Balitbang Depkes dalam acara pemaparan hasil studi SEANUTS di Jakarta, Rabu (14/11/2012).

Ia menambahkan, syarat utama dari program 1.000 hari pertama itu adalah ketahanan pangan. "Kalau yang dimakan cukup, tentu gizi kurang bisa ditekan. Ini berarti terkait juga dengan faktor ekonomi, subsidi, dan sebagainya," imbuhnya.

Selain kebutuhan pangan, hal lain yang tak kalah penting adalah pemberian ASI eksklusif, makanan bergizi yang menjadi pendamping ASI, dan imunisasi.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Stres pada Anak: Gejala, Penyebab, dan Cara Membantu

Stres pada Anak: Gejala, Penyebab, dan Cara Membantu

Health
Kenapa Payudara Sebelah Kiri dan Kanan Ukurannya Tidak Sama?

Kenapa Payudara Sebelah Kiri dan Kanan Ukurannya Tidak Sama?

Health
Cara Menghitung Masa Subur Wanita

Cara Menghitung Masa Subur Wanita

Health
7 Cara Mencegah Serangan Jantung

7 Cara Mencegah Serangan Jantung

Health
14 Akibat Kekurangan Vitamin D

14 Akibat Kekurangan Vitamin D

Health
Memahami Penyebab Kelelahan dan Cara Mengatasinya

Memahami Penyebab Kelelahan dan Cara Mengatasinya

Health
Yang Terjadi Pada Tubuh saat Mengalami Depresi

Yang Terjadi Pada Tubuh saat Mengalami Depresi

Health
Jangan Sembarangan, Ini Risiko Memberi Madu Pada Bayi

Jangan Sembarangan, Ini Risiko Memberi Madu Pada Bayi

Health
3 Penyebab Utama Sesak Napas Bisa Jadi Gejala Penyakit Apa Saja

3 Penyebab Utama Sesak Napas Bisa Jadi Gejala Penyakit Apa Saja

Health
Waspadai, Ini 5 Penyebab Mimisan di Malam Hari

Waspadai, Ini 5 Penyebab Mimisan di Malam Hari

Health
Apa itu Pra-Menopause?

Apa itu Pra-Menopause?

Health
7 Manfaat Mangga untuk Kesehatan

7 Manfaat Mangga untuk Kesehatan

Health
Gejala Thalasemia Sesuai Jenisnya yang Perlu Diwaspadai

Gejala Thalasemia Sesuai Jenisnya yang Perlu Diwaspadai

Health
6 Salah Kaprah Manfaat Sperma Buat Kulit dan Wajah

6 Salah Kaprah Manfaat Sperma Buat Kulit dan Wajah

Health
7 Penyebab Urine Berwarna Gelap yang Perlu Diketahui

7 Penyebab Urine Berwarna Gelap yang Perlu Diketahui

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X