Kompas.com - 20/11/2012, 22:11 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com - Sebagian orangtua pasti penah menemukan beberapa gejala dan gangguan yang dialami buah hati mereka. Gangguan ini bermula justru sejak usia 6 bulan lebih dan sering terjadi pada usia balita. Namun seiring pertambahan usia, gangguan tersebut membaik secara bertahap setelah usia 5 tahun. Istilah "normal" diangkat karena selama ini berbagai gangguan tersebut dianggap normal oleh para orangtua dan sebagian dokter. Tapi nyatanya tidak normal karena sebagian anak lainnya tidak mengalami.

Gangguan tersebut berupa sulit makan, daya tahan tubuh menurun, gangguan tidur, anak tidak bisa diam, dan berbagai gangguan lainnya. Karena kasusnya pada usia tersebut meningkat, seringkali gangguan ini dianggap biasa. Memang benar, setelah usia 5-7 tahun membaik, tetapi selama itu anak akan mengalami berbagai gangguan yang sangat mengganggu kadang cukup berbahaya.

Sering kita dengar dari orangtua atau bahkan sebagian dokter secara turun temurun bahwa semua gangguan tersebut adalah hal biasa. Ini dapat dilihat saat ketika anak sulit makan, tak biasa diam, gangguan tidur malam. Tetapi memang bila ada yang mengatakan normal, tidak salah karena biasanya yang terjadi adalah gangguan fungsional tubuh yang akan membaik dengan pertambahan usia.

Seringkali hal yang ringan tersebut dianggap remeh dan biasa dan akan membaik sendiri. Padahal, bila diketahui sebabnya dapat dilakukan intervensi dan dapat dicegah paling tidak dapat diminimalkan. Menurut berbagai penelitian dan pengalaman klinis yang diamati dari 546 penderita rawat jalan di Children Allergy Clinic Jakarta, ternyata berbagai gangguan tersebut dapat diminimalkan atau dicegah sebelum usia 5-7 tahun. Berbagai gangguan tersebut ternyata sering dikaitkan dengan ketidakmatangan fungsi saluran cerna atau imaturitas saluran cerna.

Gangguan fungsional ini seringkali terjadi pada penderita alergi dan hipersensitif makanan. Saat dilakukan intervensi eliminasi provokasi makanan, ternyata berbagai gangguan tersebut dapat berkurang bahkan sebagian dapat membaik sangat drastis. Berbagai gangguan tersebut mempuyai beberapa variasi. Pada kelompok tertentu gangguan tersebut terjadi usia sejak lahir hingga usia 5-7 tahun. Tetapi pada kelompok lainnya ada yang timbul justru setelah usia 5-7 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa allergy march atau perjalanan alamiah hipersensitif saluran cerna dan alergi berbeda dalam setpa kelompok dan setap usia.

Berikut adalah 10 gangguan tersebut :

1.  Kesulitan Makan. Kesulitan makan bukanlah diagnosis atau penyakit, tetapi merupakan gejala atau tanda adanya penyimpangan, kelainan dan penyakit yang sedang terjadi pada tubuh anak. Pengertian kesulitan makan adalah jika anak tidak mau atau menolak untuk makan, atau mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan atau minuman dengan jenis dan jumlah sesuai usia secara fisiologis (alamiah dan wajar), yaitu mulai dari membuka mulutnya tanpa paksaan, mengunyah, menelan hingga sampai terserap dipencernaan secara baik tanpa paksaan dan tanpa pemberian vitamin dan obat tertentu. Gejala kesulitan makan pada anak (1). Kesulitan mengunyah, menghisap, menelan makanan atau hanya bisa makanan lunak atau cair, (2) Memuntahkan atau menyembur-nyemburkan makanan yang sudah masuk di mulut anak, (3).Makan berlama-lama dan memainkan makanan, (4) Sama sekali tidak mau memasukkan makanan ke dalam mulut atau menutup mulut rapat, (5) Memuntahkan atau menumpahkan makanan, menepis suapan dari orangtua, (6). Tidak menyukai banyak variasi makanan dan (7), Kebiasaan makan yang aneh dan ganjil.

2.  Gangguan Kenaikkan berat badan.
Gangguan pertumbuhan atau sering disebut gagal tumbuh atau failure to thrive bukanlah suatu diagnosis, tetapi merupakan terminologi yang dipakai untuk menyatakan masalah khusus. Istilah gagal tumbuh dipakai untuk menggambarkan anak yang tak dapat tumbuh sesuai harapan. Kegagalan bertumbuh atau lebih khusus adalah kegagalan mendapatkan kenaikan berat badan meskipun pada kasus tertentu juga disertai terjadi gangguan pertumbuhan linear dan lingkar kepala dibandingkan anak lainnya yang seusia atau sama jenis kelaminnya. Secara umum, gagal tumbuh berarti anak yang dalam catatan kenaikkan berat badan dan tinggi badannya menurut tabel dibawah 3 - 5 persentil atau turun 2 tingkat pertumbuhan dalam persentil, misalnya pertumbuhan yang awalnya 75 persentile menjadi 25 persentile. Gangguan pertumbuhan pada umumnya sangat dipengaruhi oleh kualitas dan jumlah asupan kalori pada anak. Kualitas dan jumlah kalori tergantung beberapa hal diantaranya adalah masukan kalori yang tidak adekuat, absorpsi (penyerapan) tidak adekuat dan kebutuhan kalori yang meningkat.

3. Gangguan Tidur. Banyak orang tua mengeluh anaknya seringkali sulit tidur malam atau gangguan tidur yang lain. Hal itu biasa terjadi sejak bayi hingga usia di atas 5 tahun. Hal itu sering dikeluhkan kepada dokter tetapi saat ini jarang sekali bisa dijelaskan dengan baik mengapa hal itu terjadi. Penyebab gangguan tidur sangat banyak dan bervariasi. Gangguan tidur sering dialami oleh sekitar 70% anak dengan keluhan sulit makan dan anak kurus. Ternyata sebagian besar penyebab gangguan tidur pada anak disebabkan karena gangguan fungsi saluran cerna dipicu pengaruh alergi dan hipersensitivitas makanan. Setelah dilakukan penghindaran makanan tertentu, gangguan sulit makan dan gangguan tidur yang ada selama ini menjadi membaik secara bersamaan. Penderita gangguan kenaikkan berat badan dan sulit makan sebagian besar mengalami alergi dan hipersensitf saluran cerna. Gangguan tidur biasanya ditandai dengan tidur larut malam, bolak-balik ujung ke ujung, "nungging", berbicara, tertawa, berteriak saat tidur, sering terbangun duduk saat tidur,mimpi buruk, "beradu gigi" (bruxism). Insomnia alergi makanan adalah gangguan untuk memulai tidur dan mempertahankan kualitas tidur yang disebabkan akibat manifestasi atau respon karena alergi makanan.

4.  Anak tak bisa diam atau overaktif.  Perilaku anak yang tidak bisa diam. Ia akan bangkit dan berlari, berjalan ke sana kemari, bahkan memanjat. Anak cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (smackdown). Sering merasa gelisah tampak pada tangan, kaki dan menggeliat dalam tempat duduk. Sering meninggalkan tempat duduk dalam kelas atau situasi lain yang mengharuskan tetap duduk. Sering berlari dari sesuatu atau memanjat secara berlebihan dalam situasi yang tidak seharusnya (pada dewasa atau remaja biasanya terbatas dalam keadaan perasaan tertentu atau kelelahan). Sering kesulitan bermain atau sulit mengisi waktu luangnya dengan tenang. Biasanya anak dengan gejala seperti itu juga mengalami gangguan konsentrasi, agresif dan gangguan emosi yang sangat labil dapat cepat tersulut marah dan emosinya.
   
5. Daya tahan tubuh jelek atau mudah sakit. Penyebab utama mengapa anak sering mudah tertular sakit demam, batuk dan pilek berulang berkepanjangan adalah karena daya tahan tubuh tidak optimal dan kontak di lingkungannya ada yang sering sakit. Saat anak sering sakit orangtua seringkali menyalahkan karena tertular di sekolah. Mungkin saja benar tertular di sekolah, tetapi yang utama adalah daya tahan tubuh yang lemah dari si anak. Karena di sekolah selamanya sangat mungkin tidak akan pernah bebas dari anak sakit. Selain itu tidak disadari kontak orang sakit yang menjadi penyebab utama justru lebih sering terjadi di rumah. Bisa ayah, ibu, kakak dan orang lain yang mudah sakit tetapi selama ini dianggap alergi, masuk angin, terlalu lelah atau panas dalam. Keluhan demam, batuk dan pilek yang berkepanjangan seringkali dianggap karena alergi. Padahal yang lebih dominan adalah anak lebih mudah terkena infeksi virus saluran pernapasan. Memang benar anak mungkin mengalami alergi, tetapi hal ini terjadi karena penderita alergi khususnya dengan gangguan saluran cerna dengan keluhan mudah mual dan muntah biasanya daya tahan tubuhnya rendah dan mudah sakit. Bukan hanya orangtua bahkan dokterpun kadang sulit membedakan antara infeksi dan alergi.

6.  Sulit BAB. Sebagian anak sejak lahir hingga usia 5-7 tahun sering mengalami gangguan sulit buang air besar. Kadang BAB setiap 2-3 hari sekali bahkan pernah seminggu tak buang air besar. Berbagai obat sudah diberikan mulai pencahar minum hingga lewat anus tidak banyak membantu. Adivis untuk makan buah, sayur, serat dan minum air putih banyak sudah dilakukan, tetapi hasilnya nihil. Bahkan setelah usia 9 bulan anusnya tampak timbul tonjolan daging. Setelah itu berganti-ganti dokter, terdapat salah seorang dokter menyarankan untuk dilakukan penanganan alergi dan hipersensitifvitas makanan dengan menghindari sementara beberapa makanan yang diduga penyebab alergi makanan. Ternyata tidak dalam waktu lama keluhan gangguan buang air besarnya membaik.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.