Kompas.com - 27/11/2012, 12:29 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com - Kopi adalah salah satu zat adiktif yang legal dikonsumsi. Jika saja kafein baru ditemukan, FDA atau BPOM di Indonesia pasti tak akan meloloskannya sebagai zat yang aman dikonsumsi. Kecanduan kafein sepertinya dianggap wajar dan normal saja.

Terlepas dari berbagai bukti ilmiah tentang efek merugikan kafein, popularitasnya terus meningkat di masyarakat modern. Indonesia misalnya, dengan mudah kita dapat mendapatkan minuman berkafein, mulai dari berbagai minuman penambah energi di warung hingga kopi beraroma harum di berbagai gerai kopi. Kopi telah menjadi minuman wajib dalam pergaulan sehari-hari.

Kafein dan tidur

Kopi mendapatkan popularitas karena efeknya yang menunda kantuk, memberikan rasa senang dan bersemangat serta membangkitkan vitalitas peminumnya. Sesuatu yang amat dicari di tengah deru kehidupan serba cepat. Ini disebabkan oleh efek kafein pada reticular ascending system dan reseptor adenosine. Adenosine adalah zat yang menyebabkan kantuk. Dengan memblokir reseptornya, tubuh tidak bisa membaca adanya adenosine sehingga mengahalangi kantuk.

Tapi perlu ditekankan kafein hanya menunda kantuk tanpa mengembalikan kemampuan otak. Otak yang sudah lelah tetap akan melambat!

Kadar kafein mencapai puncaknya dalam 30-60 menit setelah dikonsumsi. Kadarnya akan tetap tinggi dalam darah selama 3 hingga 5 jam. Dosis setara dengan secangkir kopi (30-150mg) yang dikonsumsi sebelum tidur dapat memperpanjang waktu yang diperlukan untuk tidur dan juga mengganggu proses tidur itu sendiri. Gangguan proses tidur akibat kafein adalah buruknya kualitas tidur akibat tahapan tidur dalam (stage N3 sleep) yang memendek. Padahal tahap tidur dalam, sering juga disebut restorative sleep, adalah tahapan tidur penting dimana tubuh mengeluarkan hormon pertumbuhan yang berfungsi dalam perbaikan sel-sel tubuh yang rusak. Pada beberapa orang yang sensitif terhadap kafein, dengan konsumsi kopi di pagi hari sudah dapat mengganggu proses tidur di malam harinya.

Kafein dosis tinggi (> 6 cangkir kopi) dalam sehari dapat memperlambat metabolisme kopi sehingga kadarnya tetap tinggi di otak selama 9 hingga 15 jam. Sementara dengan dosis luar biasa, 100 cangkir (10 gram) sehari dapat menyebabkan kematian.

Dari sisi kesehatan tidur, bukan hanya dosis konsumsi yang harus diperhatikan. Jauh lebih penting memperhatikan jadwal konsumsinya. Disarankan, agar tak mengganggu proses tidur (termasuk kualitas tidur) konsumsi kafein terakhir adalah 12 jam sebelum tidur.

Produktivitas dan kopi

Kita senang sekali dihibur dengan mitos bahwa ada zat yang dapat mengalahkan lelah dan kantuk hingga dapat terus aktif produktif. Lihat saja berbagai iklan di media, semua produk berlomba-lomba menyatakan bisa kalahkan kantuk dan meningkatkan produktivitas. Hal yang memprihatinkan sebenarnya, karena menyiratkan masyarakat kita yang mengantuk.

Tetapi tak demikian kenyataannya, tak ada satu zat pun yang dapat menggantikan efek restoratif tidur!

Halaman:

Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.