Kompas.com - 12/12/2012, 13:23 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com – Seorang anak perempuan di Amerika Serikat, Emma Whitehead (7), sudah lima tahun didiagnosis menderita kanker darah atau leukemia limfoblastik akut. Tahun lalu ia hampir meninggal karena kambuh, meskipun sudah menjalani pengobatan kemoterapi.

Namun pada tahun ini, ia telah hidup lebih lama daripada yang divonis selama tujuh bulan. Ia juga sudah bersekolah, memasuki tahun keduanya. Hal ini terjadi karena ia menjalani suatu metode baru pengobatan untuk melawan kanker yang dideritanya.

Pengobatan ini menggunakan HIV yang telah dilemahkan sehingga metodenya hampir sama dengan vaksinasi. HIV dapat memprogram ulang gen yang mengelola sistem imun dan dilatih untuk dapat membunuh sel kanker.

Para ahli menghilangkan jutaan sel T, salah satu jenis sel darah putih, dan memasukkan gen baru yang akan memungkinkan sel T untuk membunuh sel kanker. HIV yang sudah dilemahkan digunakan untuk pengobatan karena virus ini mampu untuk mengubah materi genetik menjadi sel T.

Kemudian sel T yang telah direkayasa itu dipompa kembali ke dalam tubuh dengan tujuan untuk menyerang sel B, yang pada penderita leukemia berubah menjadi ganas. Sel T yang direkayasa dapat berada di dalam tubuh selama bertahun-tahun, namun kemampuannya untuk melawan penyakit akan berkurang.

Emma adalah salah satu dari banyak pasien yang menerima metode pengobatan ini. Meskipun demikian, pengobatan ini ternyata belum sempurna. Sel T yang direkayasa bisa saja membunuh sel B yang normal sehingga pasien dengan pengobatan ini membutuhkan suntikan imun globulin secara ruitn untuk mencegah infeksi. Pengobatan ini juga sangat mahal, saat ini biaya bersih yaitu sekitar 20.000 dollar AS. Para peneliti masih terus mengembangkan jenis pengobatan ini untuk menyempurnakannya.

Dr. Carl June, yang memimpin tim peneliti di University of Pennsylvania, pada akhirnya berharap bahwa teknik ini akan menghilangkan ketergantungan pada transplantasi sumsum tulang, yang sekarang menjadi pilihan terakhir bagi orang-orang penderita leukemia.

Meskipun metode pengobatan ini dikatakan cukup berhasil pada Emma, namun beberapa orang dewasa dilaporkan tidak mengalami perbaikan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi peneliti untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan pada pengobatan.

Metode pengobatan ini pertama kali dikembangkan para ahli di University of Pennsylvania. Sedangkan Emma menerimanya di Rumah Sakit Anak Philadelphia. Sampai saat ini, metode pengobatan serupa digunakan di Institut Kanker Nasional Amerika Serikat dan Memorial Sloan-Kettering Cancer Center.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.