Kompas.com - 08/01/2013, 20:25 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com - Kelahiran bayi dengan kerancuan jenis kelamin semakin sering ditemui. Orangtua biasanya bingung bagaimana menentukan jenis kelamin yang tepat untuk anaknya. Padahal, dengan pemeriksaan yang lengkap sejak proses persalinan, dilema penentuan jenis kelamin tak perlu terjadi.

Kasus terbaru dalam ketidakjelasan jenis kelamin terjadi di Bogor. Seorang anak peremuan, ATP (6) telah diganti kelaminnya menjadi laki-laki melalui operasi kelamin di RSCM Jakarta atas permintaan kedua orangtuanya. Saat ini orangtuanya tengah meminta keabsahan pergantian kelamin tersebut secara hukum di Pengadilan Negeri Cibinong, Kabupaten Bogor (Warta Kota/8/1/13).

Menurut Kepala Bagian Andrologi dan Seksologi  Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Prof.dr.Wimpie Pangkahila, Sp.And, dalam dunia medis dikenal dua jenis kelamin ganda, yakni hermaprodit atau benar-benar memiliki dua jenis kelamin, serta pseudohermaprodit atau setengah-setengah.

"Yang paling sering terjadi yang pseudo. Misalnya ada penis tetapi kecil dan jika di-USG terdapat indung telurnya. Atau di kelaminnya mirip klitoris tetapi memiliki testis," katanya saat dihubungi Kompas.com.

Ia menambahkan, untuk menentukan jenis kelamin anak yang paling tepat perlu dilakukan pemeriksaan yang lengkap. Pemeriksaannya meliputi fisik, misalnya dilihat apakah ada testisnya atau tidak. Atau, apabila organ genitalnya mirip vagina harus dicek juga apakah anak tersebut mempunyai rahim dan indung telur.

Selain itu, yang tak kalah penting adalah pemeriksaan kromosom untuk mengetahui apakah anak tersebut memiliki gen perempuan atau laki-laki.

"Kalau seluruh pemeriksaan sudah lengkap dan berani memutuskan boleh saja melakukan operasi untuk mengganti kelamin anak sesuai kecenderungannya," kata spesialis yang menjadi Ketua Umum Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) ini.

Kerancuan jenis kelamin bisa diatasi dengan tindakan operasi, misalnya untuk memperbaiki letak uretha di depan penis sehingga bayi laki-laki bisa buang air kecil lewat ujung penis. Menurut situs kesehatan WebMD, tindakan ini dapat dilakukan sebelum bayi berusia satu tahun.

Pada kasus ATP, Wimpie menilai anak tersebut masih terlalu kecil. "Pada usia sedini itu anak belum bisa mengomunikasikan dengan baik perasaannya dan belum mampu mengevaluasi dirinya sendiri," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.