Kompas.com - 17/01/2013, 11:40 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com Musim hujan yang masih berlangsung dan menimbulkan banjir di berbagai wilayah menimbulkan risiko penularan penyakit. Kewaspadaan terhadap ancaman penyakit, terutama bagi warga di daerah yang tergenang, sebaiknya ditingkatkan.

Salah satu penyakit yang mengintai warga di sekitar lokasi banjir adalah Leptospirosis. Ini adalah salah satu penyakit menular yang berasal dari hewan dan menjangkiti manusia dan termasuk penyakit zoonosis paling sering di dunia.

Leptospirosis disebabkan bakteri patogen berbentuk spiral genus Leptospira, famili leptospiraceae dan ordo Spirochaetales. Angka kematian akibat leptospirosis tergolong tinggi dengan angka 5-40 persen.

Infeksi ringan diperkirakan pada 90 persen kasus. Anak balita, orang usia lanjut, dan penderita yang mempunyai daya tahan tubuh rendah punya risiko kematian tinggi akibat penyakit ini. Pada usia di atas 50 tahun, risiko kematiannya bisa mencapai 56 persen. Pada penderita ikterus yang sudah mengalami kerusakan hati, risiko kematiannya lebih tinggi.

Penularan penyakit ini bisa melalui tikus, babi, sapi, kambing, kuda, anjing, serangga, burung, landak, kelelawar, dan tupai. Bakteri Leptospira terbawa air seni tikus atau air seni hewan lain yang tercampur dalam genangan air hujan atau banjir. Penyakit ini dapat menyerang semua usia, mayoritas berusia 10-39 tahun, sehingga bisa jadi usia adalah sebuah faktor risiko.

Di Indonesia, penularan paling sering adalah melalui tikus. Air seni tikus terbawa banjir kemudian masuk ke tubuh manusia melalui permukaan kulit yang terluka, atau selaput lendir mata dan hidung. Bisa juga melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi urine tikus yang terinfeksi leptospira.

Beberapa hewan lain, seperti sapi, kambing, domba, kuda, babi, dan anjing, dapat terserang leptospirosis, tetapi potensi menularkan ke manusia tidak sebesar tikus. Leptospirosis tidak menular langsung dari pasien ke pasien.

Masa inkubasi leptospirosis 2 sampai  26 hari. Sekali berada di aliran darah, bakteri ini dapat menyebar ke seluruh tubuh dan mengakibatkan gangguan, khususnya hati dan ginjal. Pada ginjal, kuman bisa menyebabkan peradangan ginjal dan kematian jaringan sampai gagal ginjal.

Gangguan hati juga mungkin terjadi sehingga bisa menyebabkan ikterus (kulit berwarna kekuningan). Jika leptospira mengenai otot, maka bisa menyebabkan pembengkakan, kerusakan jaringan, hingga gangguan permeabilitas kapiler pembuluh darah; sedangkan gangguan paru yang sering terjadi adalah batuk darah.

Infeksi leptospirosis mempunyai gejala yang sangat bervariasi, bahkan kadang hampir tidak ada gejala sehingga sering terjadi kesalahan dalam mendiagnosis. Sebanyak 15-40 persen penderita yang terinfeksi tidak bergejala, tetapi pemeriksaan laboratorium positif.

Cara menghindari atau mengurangi risiko terkena leptospirosis adalah dengan menghindari atau mengurangi kontak dengan air yang tercemar dan binatang di wilayah banjir. Pakailah sepatu yang beralas keras, sarung tangan, baju dan kacamata pelindung, untuk menghindari kemungkinan luka yang memicu risiko infeksi. Perhatikan pula kebersihan lingkungan dengan selalu menjaga kemungkinan kontaminasi.

Komplikasi tergantung dari perjalanan penyakit dan pengobatannya. Perkiraan kondisi penderita di masa depan tergantung dari ringan atau beratnya infeksi. 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang

    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.