Kompas.com - 20/02/2013, 16:28 WIB
|
EditorFarid Assifa

MAGELANG, KOMPAS.com -- Dalam dua bulan terakhir, sedikitnya 19 orang warga Kota Magelang terjangkit penyakit demam berdarah dengue (DBD). Kepala Dinas Kesehatan Kota Magelang, Pantja Kuntjara mengatakan, dari 17 kelurahan yang ada di wilayah ini, hampir semuanya masuk dalam kategori endemik DBD.

"Korbannya bervariasi dari anak-anak hingga dewasa. Namun belum ada yang sampai meninggal. Dari jumlah tersebut, empat di antaranya terdapat di Kelurahan Jurangombo Selatan, Kecamatan Magelang Tengah," ujar Pantja, Rabu (20/2/2013).

Meskipun terjadi lonjakan jumlah penderita DBD, namun kata Pantja, belum dikaterogikan kejadian luar biasa (KLB). Sebab disebut KLB jika penderita mencapai lebih dari 200 orang.

Pantja menyebutkan, kasus DBD di kota Magelang mengikuti siklus empat tahunan. Dimana ledakan jumlah penderita pernah mencapai 266 orang pada tahun 2009. Kemudian pada tahun 2010 meningkat menjadi 274 orang, dan satu orang meninggal dunia. Sedangkan pada tahun 2011, jumlah penderita DBD menurun menjadi 41 orang, meninggal dunia satu orang, dan pada 2012 mencapai 47 orang, namun tidak ada korban meninggal dunia.

"Ini memang siklus empat tahunan. Kasus tertinggi biasanya terjadi sekitar bulan September hingga Maret atau ketika peralihan musim kemarau ke musim hujan," katanya.

Sebagai upaya menekan angka penderita penyakit yang disebarkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti ini, pihak Dinkes sudah melakukan pengasapan atau fogging sesuai kriteria di beberapa wilayah endemi. Selain itu, pihaknya juga bekerjasama dengan puskesmas, intansi dan organisasi masyarakat untuk terus bersosialiasi tentang pentingnya menjaga kebersihan.

"Kita telah melakukan fogging sesuai kriteria. Mengapa demikian, karena tidak semua daerah yang ditemukan kasus, bisa difogging. Tindakan tersebut dilakukan jika terdapat satu kasus DBD dan ada 5 kasus lainnya di sekitar atau minimal radius 100 meter dari daerah tersebut," paparnya.

Selain itu, Pantja menambahkan, tindakan fogging juga dilakukan jika suatu wilayah bebas jentik kurang dari 95 persen. Selain menjaga kebersihan lingkungan, menurut Pantja, yang perlu dijaga dan diwaspadai masyarakat adalah genangan-genangan air yang tak terduga seperti air selokan yang menggenang dalan jangka waktu lama, air minum dalam dispenser, air minum hewan ternak, vas bunga dan reservoir lemari es.

"Bagian-bagian itu sering dilupakan orang. Kemudian juga ketika menguras bak kamar mandi juga sebaiknya dengan cara menyikat," imbaunya.

Pantja juga mengimbau masyarakat untuk lebih cermat dengan ciri-ciri awal seseorang terjangkit penyakit DBD. Disebutkannya, cara mudah mengenali gejala DBD adalah ketika seseorang mengalami demam tinggi hingga 44 derajat celcius selama dua hari disertai bintik-bintik merah pada kulit.

"Ketika ditemukan gejala demikian, maka sebaiknya segera dibawa ke puskesmas terdekat," tandasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.