Kompas.com - 21/02/2013, 16:38 WIB
EditorAsep Candra

JAKARTA, KOMPAS.com - Wanita hamil perlu ditawarkan atau diprioritaskan untuk melakukan pemeriksaan HIV (human immunodeficiency virus) yang menjadi penyebab AIDS. Hal tersebut diungkapkan dalam Surat Edaran Menteri Kesehatan No. 1 Tahun 2013 tentang layanan Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA).

"Karena adanya surat edaran ini, maka seluruh tempat pemeriksaan kehamilan perlu juga menyediakan alat tes HIV," ujar Ketua Satuan Tugas (Satgas) HIV Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Nia Kurniati pada wartawan dalam Seminar yang diadakan IDAI, Kamis (21/2/2013) di Jakarta.

Pemeriksaan HIV ini bertujuan untuk menemukan kasus wanita hamil yang terinfeksi HIV sehingga dapat lebih cepat untuk diberikan obat antiretroviral (ARV) dan mendapatkan layanan perawatan, dukungan, dan pengobatan lebih lanjut. "Pemberian ARV pada ibu hamil akan sangat menekan angka transmisi HIV dari ibu ke bayi," ungkap Nia yang juga menjadi dokter imunologi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) ini.

Nia menambahkan, dengan pendeteksian HIV, tenaga medis pun dapat menentukan teknik persalinan yang paling tepat untuk kasus ibu dengan HIV, sehingga semakin menekan angka transmisi ini. Pelaksanaan persalinan bergantung indikasi obstetrik dengan kewaspadaan standar, namun disarankan untuk melakukan bedah caesar untuk mencegah cairan dari tubuh ibu masuk ke tubuh bayi.

Selain itu, lanjut Nia, pilihan nutrisi bagi bayi dengan ibu yang HIV positif juga diperhatikan, yaitu memberikan ASI ekskusif atau susu formula. "Harus dipilih salah satu saja untuk meminimalisasi transmisi. Pencampuran sangat tidak direkomendasikan," ujarnya.

Namun sayangnya sampai saat ini anjuran tersebut masih mengalami beberapa kendala. Nia menjelaskan, akses untuk layanan antenatal masih belum dapat dijangkau oleh seluruh ibu hamil di Indonesia. "Hanya 80 persen dari ibu hamil yang pergi ke tempat penyedia layanan antenatal," kata dia.

"Maka bagaimana mungkin tes HIV menjangkau seluruh ibu hamil, jika belum semua ibu hamil mendapat layanan antenatal. Tenaga medis umumnya masih sungkan untuk menawarkan tes HIV pada ibu hamil. Ini dikarenakan masih jarang ibu hamil yang menjalani pemeriksaan HIV di Indonesia," tutur Nia.

"Sudah ditawarkan pun, seringkali ibu hamil tidak bersedia untuk dites HIV. Kalaupun mau, suaminya tidak mengizinkan. Yang juga menjadi kendala adalah masih minimnya kesadaran untuk berkonsultasi pasca tes dilakukan," tambahnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.